Archive for vw kodok

Perpisahan dengan sahabat karib

Posted in Otomotif with tags , , , on November 19, 2011 by Slamet Sutrisno

VW saya yang satu ini penampilannya kalem. Warnanya steven beige. Ada sebutan lainnya yaitu ligh ivory. Padahl kalau ngeliat contoh warna cat, antara steven beige dan light ivory terlihat adanya perbedaan. Putih kecoklatan, begitulah. Yang satu ini dibilang
kerasan tinggal dengan saya. Tercatat sejak tahun 1995, ketika saya masih berdinas di kota Medan, Sumatra Utara.
Ketika pindah ke Bandung tahun 1996, saya membawanya dengan melalui perjalanan darat, selama dua hari tiga malan, tentunya
termasuk menyeberang dengan ferry dari Bakauheni ke Merak. Mesin standardnya yang hanya 1300 CC termasuk
tangguh, sekalipundi BPKB maupun STNK tertulis 1500. Mungkin salah identifikasi dari sononya. Padahal nomor
mesinnya masih original. Saya restorasi untuk yang pertama tahun 1999 dan yang kedua kalinya tahun 2007/2008. Teman seperjalanannya dari Medan, vw safari hitam 1976 kini tinggal kenangan, karena sudah dilego.

BPKB nya dikeluarkan oleh Kepolisian Tanah Karo Sumatra Utara atas nama Gereja Batak Karo-Zuster Elsberg Zoller-Brastagi. Sedangkan saya adalah pemilik ketiga. Saya balik nama tahun 1996 ketika saya masih tinggal di Medan, Tahun 1996 saya pindah ke Bandung, tahun1998 saya mutasikan ke Kodya Bandung. Tahun 1999 saya mutasikan ke Kabupaten Bandung mengikuti saya pindah rumah. Tahun itu juga berganti warnalah sang kodok dari kombinasi silver-merah mirabella ke ligh ivory. Ini juga karena perpindahan gaya hidup dari hura-hura menjadi lebih santun. Hheee…heee…

Meski kurang bertenaga, tapi mesin 1300 memang sangat irit. Kalau saya bawa dari Bandung ke Semarang, tercatat
antara 13 sampai dengan 14 km/liter. Meski akselerasinya kurang, namun top speednya masih terbilang lumayan, masih bisa keluar 120 km/jam. Takut bablas tidak bisa berhenti?? Jangan khawatir, karena sudah dilengkapi dengan rem cakram depan dan booster untuk vw.

Ketika saya beli si kodok pakai velg racing jepang. Karena ukuran PCD antara velg Jepang dengan tromol Eropa berbeda, maka dipasanglah spicer. Pengerjaan lubang spicer yang tidak presisi ini banyakmenimbulkan masalah. Kalau diajak jalan pelan di aspal yang halus dan rata, mobil malah terasa seperti diayun-ayun bak naik kapal Tampomas. Kalau dipakai ngebut mobil terasa bergetar. Ball joint dan shock absorber sangat boros, harus sering ganti karena jebol. Maka saya penuhi anjuran mekanik saya untuk kembali ke velg dan ban standard, barulah permasalahan teratasi. Masalah lain timbul. Saya tidak menyukai penampilan velg dan ban standard, terlalu culun. Perburuan velg racing untuk vwpun di mulai.

Akhirnya kutemukan juga velg yang sesuai. Dipadu dengan ban continental gres, sangat serasi.
Setelah selesai restorasi, si kodok hanya dipakai sekali seminggu. Hingga suatu saat seorang teman menanyakan, apakah mau dijual. Dia bilang bahwa temennya yang di Surabaya sedang cari vw kodok. Saya bilang, mau dijual asal harga sesuai. Ternyata hanya dengan mengirim gambar via e-mail kesepakatanpun terjadi.

Selamat jalan sahabat. Kamu telah menemaniku selama 13 atau 14 tahun lamanya. Hanya karena keterlepasan omongan, kini kita harus berpisah. Kupajang foto cantikmu di web ini, sebagi kenangan yang abadi.

Advertisements