Archive for vetsin

700 Ribu Rupiah

Posted in Al Islam with tags , , , , on November 23, 2011 by Slamet Sutrisno

Karena sesuatu dan lain hal, uang perjalanan dinas selama dua hari belum juga cair. Perjalanan dinas itu sendiri sudah saya jalani dua minggu yang lalu. Sekedar untuk memperoleh kepastian, saya telpon bagian yang biasa mengurusi perjalanan dinas. Singkatnya, masih harus konfrmasi ini dan itu, mohon bersabar.

Tiba-tiba teman sekantor yang duduk disebelah nyeletuk “duit tujuh ratus ribu saja kok diurus”.

Sejenak hati saya berdesir. Begitu rendahkah martabat saya, karena menanyakan uang tujuh ratus ribu rupiah?? Ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba menyelinap. Teman saya juga terdiam, mungkin menyesali ucapannya.

Tepat jam 17:00 saya mengklik presensi on-line. Saya bergegas keluar ruangan dan segera pulang ke rumah. Seperti biasa, setelah maghrib saya melayani anak-anak. Mulai dari si kecil yang minta dibacakan buku cerita, sampai yang sudah kuliah dan ingin didengar ceriteranya tentang kehebohan-kehebohan dikampusnya.

Tapi tidak terhapus juga kata-kata sang teman tadi siang.

Jam 23:00.

Si kecil sudah masuk kamar dengan ibunya. Yang lulus SMU sudah naik ke kamar atas. Telinganya masih disumpal dengan head-set. Ditirukannya apa yang didengarnya di head-set, meski dengan nada yang tidak karuan. Kakaknya masih asyik melayani teman-temannya dengan face-booknya.

Ting ting ting ting, terdengar suara tukang bakso keliling yang kadang datang kadang tidak. Wah, jam segini masih keliling, mau jam berapa pulangnya, pikir saya. Perlahan-lahan saya keluar dari pintu dapur. “Mau beli bakso Pak?’ Tanya anak saya. “Kamu mau?” saya ganti nanya. “Nggak doyan” jawabnya singkat, tapi sengit. Saya juga tahu, bahwa bakso keliling yang suka masuk ke komplek kami memang tidak enak. Senjata utamanya hanya vetsin. Dan celakanya, kalau ngasih vetsin nggak tanggung-tanggung. Satu sendok teh penuh, untuk semangkok bakso.

“Mang, semangkok tanpa vetsin” pesan saya.

Tidak enak? Sudah jelas. Seperti air kencing kuda, batinku. Meskipun, sumpah mati, saya belum pernah minum yang satu ini.

‘Mang, jualan bakso kaya gini untungnya berapa Mang” pancing saya. “Kalau habis semua, ya antara 40 sampai 50 ribu” jawabnya. “Tapi jarang habis Pak” lanjutnya. “Kalau habis itu berapa mangkok Mang”, tanya saya lagi. “Lima puluhan mangkok Pak”.

“Semangkok untungnya seribu” pikir saya.

“Berapa Mang?”, tanya saya. “Enam ribu”, jawabnya.

Saya angsurkan uang sepuluh ribuan. Ketika dia sedang lengah karena mencarikan uang kembalian, dengan cepat kubuang bakso yang masih tersisa tiga perempat itu kearah rimbunnya dedaunan tanaman pagar.

“Baksonya bikin sendiri Mang?” tanya saya lagi. “Nggak Pak, beli di pasar Ujung Berung, sekalian beli sayurnya”.

Prasangka buruk saya langsung bekerja. Saya bayangkan pasar tradisional yang banyak lalat, becek, bau, komplit. Tiba-tiba saya ingat berita tentang bakso tikus yang belakangan marak.

Saya masuk lagi kedalam rumah. Jam dinding sudah menunjukkan hampir tengah malam.

Sambil minum air putih, saya membuat perhitungan-perhitungan sederhana. Kalau saja Mang tukang bakso langsung pulang kerumah saat itu juga, tidak akan kurang dari jam 01:00 atau bahkan jam 02:00 dini hari baru akan sampai di rumahnya. Alangkah lelahn ya.

Kembali ingat uang perjalanan dinas yang belum terbayar, 700 ribu perak. Seandaiya saat ini saya harus berjualan bakso keliling, untuk memperolehnya saya harus menjual 700 mangkok bakso. Kalau sehari laku 50 mangkok, berarti saya harus menjualnya selama 14 hari, tanpa libur Sabtu dan Minggu. Harus memikul seperangkat peralatan dan berkeliling dari kampung ke kampung dari komplek perumahan yang satu ke komplek perumahan yang lain. Saya akan kehilangan banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Saya akan kehilangan kesempatan untuk menulis dengan computer seperti saat ini. Bahkan mungkin saya akan kehilangan kesempatan untuk sekedar membaringkan tubuh ini jika telah kelelahan seharian bekerja. Juga kehilangan kesempatan untuk mendengarkan wejangan para kyai kondang yang sering mengisi ceramah di masjid kantor perusahaan tempatku bekerja saat ini.

Saya masuk kamar dengan perlahan. Si kecil sudah tidur pulas dengan botol susu masih dalam pelukannya, sementara ibunya tertidur dengan buku resep kue yang masih terbuka disampingnya.

Ya Allah, Engkau telah beri kemudahan. Engkau telah beri aku kemuliaan. Engkau telah berikan apa yang tak dimiliki oleh orang lain. Engkau telah berikan hidup yang berharga ini.

Seharusnya aku maklum, kalau suatu saat do’aku tidak Engkau penuhi.

Advertisements