Ngguyang Sapi

Posted in Otobio, Pertanian, Peternakan with tags , , on December 23, 2013 by Slamet Sutrisno

Ngguyang dalam bahasa Jawa, bahasa Indonesianya adalah memandikan. Namun istilah ngguyang dalam kontek bahasa Jawa adalah memandikan binatang-binatang ternak berkaki 4 yang besar, misalnya ngguyang sapi, ngguyang kebo atau ngguyang jaran.

Binatang ternak yang sudah biasa di guyang nampaknya sangat menikmati acara ini. Begitu sampai di sungai, setelah minum air sungai biasanya akan mengikuti aba –aba yang diperintahkan oleh Cah Angon. Cah angon adalah seseorang yang ngurusi ternak, baik dia sebagai pemilik maupun hanya sebagai orang upahan. Kalau di perintah rum….rummm (kependekan dari njerum… yang artinya: tiduran atau menggeletak) maka sapi atau kerbau akan segera melakukannya. Biasanya kita segera menciprati ternak itu dengan air, kemudian menggosok-gosoknya dengan segepok ilalang agar kotoran yang melekat di badannya hilang. Kemudian kalau kita bilang seh….sehhhh (kependekan dari nyiseh atau membalikkan badan), maka ternak itupun akan membalikkan badan dengan senang hati.

Gampang??
Bisa gampang, bisa jadi malapetaka.
Suatu saat kampung kami mendapat sapi bantuan Presiden. Sapi itu didatangkan dari Australia, katagori sapi perah. Mungkin waktu itu negeri kita sedang mengejar swasembada susu. Pastinya sapi-sapi ini di negeri aslinya tidak pernah dimandikan secara manual, dielus-elus dan digosok-gosok. Atau mungkin juga belum pernah diajak mandi di sungai. Waktu diajak ke sungai masih tenang-tenang saja, bahkan seperti sapi-sapi yang lain diapun minum sepuasnya. Tapi waktu disuruh berbaring, tentunya pakai bahasa Jawa, dia nggak ngerti. Ya sudah nggak apa-apa biar mandi sambil berdiri. Maka tali pengikatnyapun saya injak pakai kaki dan dengan menggunakan kaleng butut yang kutemukan, maka ku siramkan air sungai ke tubuhnya. Mungkin karena tidak menduga akan diperlakukan seperti itu, sang sapipun terkejut dan menjadi beringas. Diapun melompat dan berlari sekencang-kencangnya keluar dari sungai. Karena kaki masih bertahan untuk menginjak tali pengikat, maka akupun terpelanting jatuh ke sungai yang berbatu-batu.

Jakarta Oh Jakarta – bagian 1

Posted in Uncategorized with tags on November 29, 2013 by Slamet Sutrisno

Berita bahwa saya dipindah tugaskan ke Jakarta saya terima secara tidak sengaja. Lho kok bisa. Di perusahaan tempatku bekerja, kalau ada pegawai pindah, selain mendapat SK pindah, akan dibuatkan surat perintah jalan, sekaligus dikasih uang saku untuk melaksanakan kepindahan tersebut. Tentunya ada bagian tersendiri yang mengurusi hal tersebut. Seperti layaknya perusahaan besar, segala komunikasi internal dilakukan dengan menggunakan media elektronik seperti e-mail dan lain-lain.
monash
Demikian pula bagian yang membuat surat perintah jalan tersebut. Untuk mengetahui kapan tepatnya saya akan berangkat, maka bagian ini menanyakannya melalui e-mail. Jadi saya sudah tahu terlebih dahulu bahwa saya akan dipindahkan ke Jakarta sebelum manajemen menyampaikan SK pindah secara resmi.

Aduh, Jakarta. Kota yang selama puluhan tahun saya berusaha menghindarimu, akhirnya engkau mengundangku juga untuk datang.

Bayanganku yang muram tentang Jakarta terus berkelebat dalam otak. Jadi anak, eh …kakek kost (karena umurku sudah 52 tahun) dan makan di warung tiap hari. Tidak jadi soal, kataku dalam hati. Toh masa tugasku tinggal beberapa saat lagi.

Karena ada beberapa orang teman yang sudah di Jakarta dengan lokasi yang sama, maka saya kontak untuk di pesenkan kamar kost. Yang pake AC ya, pesanku wanti-wanti. Beres, jawab mitraku di seberang sana. Tanggal 25 September 2013 pagi hari saya berangkat ke Jakarta dengan kereta api. Setelah sampai dan melapor di kantor Jakarta, langsung ku hubungi temen untuk segera melihat tempat kost. Memang ada beberapa kamar yang masih kosong, tapi hanya pakai kipas angin. Tidak apa…langsung masuk. Tapi apa yang saya duga memang terjadi, pagi harinya badan pegal-pegal karena semalaman ditiup pakai kipas angin.

Beruntung tiga hari kemudian ada teman yang pindah kost, karena memang lokasi kerja juga pindah, meskipun masih satu kota. Tapi kamar yang ditinggalkannya termasuk yang paling mahal, selain pake AC juga ukurannya paling besar. Hitung-hitung biaya kontraknya setahun sama dengan harga kontrak satu rumah selama setahun di Bandung. Akhirnya sayapun jadi penghuni kamar ber AC yang hanya dingin menjelang dini hari itu, maklum AC nya kayaknya sudah uzur, suaranya aja yang kenceng.

Kalau di kalkulasi lagi, baik pake kalkulator beras maupun kalkulator science yang sering dipakai anak kuliah teknik, ternyata kenaikan gajiku karena pindah ke Jakarta hanya habis untuk kost, transportasi dan lain-lain. Ya sudahlah, apa boleh buat. Jakarta oh Jakarta, mengapa hargamu demikian mahal.

Memanaskan Mesin Mobil

Posted in Kesehatan with tags on November 20, 2013 by Slamet Sutrisno

Bagi sebagian orang, memanaskan mesin mobil di pagi hari barangkali menjadi bagian dari kegiatannya sehari-hari. Memang ada semacam sugesti tersendiri, bahwa mesin mobil yang telah dipanaskan beberapa saat lamanya, ketika dipakai untuk jalan terasa lebih nyaman.

Di kos-kosan saya di Jakarta, ada beberapa orang penghuninya yang membawa mobil. Kurang lebih ada delapan mobil yang parkir, baik yang berada di halaman, maupun di dalam garasi yang menyatu dengan ruang kerja pengurus kost, sekaligus berhadapan dengan kamar para penghuni.
DSC00591
Selama hampir dua bulan tinggal disini, saya perhatikan sebagian pemilik mobil punya kebiasaan memanaskan mesin mobilnya, tidak peduli parkirnya di halaman atau di dalam garasi. Setiap kali saya lewat pintu garasi yang sekaligus pintu akses keluar masuk kos kosan, kalau ada mobil yang menyala mesinnya saya menahan nafas sambil menutup hidung untuk menghindari masuknya sisa pembakaran yang terkonsentrasi di ruangan tersebut.

Selain itu, apa yang saya lakukan?
Paling banter memberitahu pada pengurus kos kosan, bahwa memanaskan mesin mobil dalam ruangan yang terbatas sangatlah besar bahayanya. Apakah hal ini disampaikan pada pemilik mobil? Hanya Tuhan yang tahu. Lalu mengapa saya tidak langsung saja memberitahu pemilik mobil. Wah entar saya di bilang….syirik lu. Wah bisa sakit hati.

Jadi, saya hanya menunggu mereka-mereka menyadari kekeliruan yang mereka lakukan. Tapi….kata lagu……menunggu itu menjemukaaaannn.

Bakti Sosial Telkom Motorcycle Community, Legok Jawa-Ciamis 29-31 Maret 2013

Posted in Otomotif, Pariwisata with tags , , , , , on April 23, 2013 by Slamet Sutrisno

Bakti sosial kali ini tergolong istimewa. Bagaimana tidak? Para peserta boleh pilih, mau pakai mobil atau pakai motor. Selain personil penyapu ranjau yang pakai motor juga disiapkan driver sebagai penyapu ranjau yang menggunakan mobilpick-up. Perjalanan yang ditempuh sangat bervariasi. Aspal licin, jalan tanah berlumpur, tanah berbatu……lengkap. Kalau dilihat destinasinya, tepatlah kalau dikatakan sebagai wisata pantai. DSC01527
Pantai Batu Karas sore hari
DSC01534 Pantai Madasari. Jangan coba-coba mandi di pantai ini dik, kalau tidak ingin pulang tinggal KTP.DSC01518
Keluarga anggota TMCC mencoba mengangkat ikan tangkapan nelayan yang melaut pagi ini. Wuaaaahhhh ternyata berat juga ya???DSC01490DSC01491Nelayan menunggu saat yang tepat untuk melaut. Tidak mudah bagi nelayan di pantai selatan untuk melaut. Berkali-kali mereka mendorong perahu ketengah laut, mereka dihantam ombak dan kembali ke tepian sebelum sempat menghidupkan motor tempelnya.
DSC01492 Matahari terbit di pagi hari yang indah
DSC01493
DSC01494
DSC01496
DSC01501
Usiamu ibarat matahari terbit, tingginya baru sepenggalah dan panasnya belum seberapa. Sebentar lagi akan meninggi dan menerangi dunia.
DSC01510Persiapan pasar murah untuk warga.

Hari Kartini

Posted in anak bungsu, Keluarga with tags on April 23, 2013 by Slamet Sutrisno

DSC01564DSC01566DSC01563Hari Kartini tahun ini jatuh hari Minggu. Maka peringatan di sekolah-sekolah dilaksanakan hari Seninnya. Lucu rasanya melihat Kartini-Kartini cilik beraksi dengan berbagai pakaian adat.

MANDI DI SUNGAI

Posted in Keluarga with tags , on April 23, 2013 by Slamet Sutrisno

DSC01562DSC01560DSC01561Anak saya yang bungsu, paling suka mandi di sungai. Kalau pulang kampung di Ungaran, selalu nagih mandi di sungai.Sabtu 20 April kemarin demikian juga, padahal malam sebelumnya turun hujan deras. Tak ayal, sungaipun airnya deras dan agak keruh.

Keluyuran Sendirian

Posted in Pariwisata on April 10, 2013 by Slamet Sutrisno

DSC01403Hasrat untuk melihat tempat-tempat baru kadang-kadang sulit untuk ditahan. Maka suatu saat saya juga ngeluyur sendirian.
Kemana ya?? Tiba-tiba saya ingat Situ Patenggang. Dari sana masih ada jalan ke arah barat menuju perkebunan teh. Maka kesanalah saya arahkan Trail TS 125. Keluar dari rumah jam 09.00 dan sudah nyampai di rumah lagi jam 16.00.
Inilah beberapa gambar yang berhasil saya rekam.
DSC01401
DSC01402