Archive for the Wayang Trondol Category

Petruk Jadi Raja

Posted in Wayang Trondol with tags , , on December 9, 2011 by Slamet Sutrisno

Seseorang, yang derajadnya tidak lebih dari seorang pembantu, tiba-tiba menjadi penguasa yang wewenangnya sulit dicari bandingnya. Semuanya bisa terjadi, ketika orang tersebut oleh Sang Pemberi hidup sedang diberi peran untuk melakukan suatu misi.
Kira-kira seperti itulah yang terjadi pada tokoh kita ini.

Maka, ketika penguasa dadakan itu berhak memegang tongkat komando yang hanya boleh disandangnya sesaat itulah, hal-hal yang nyleneh kadang dilakukanya. Dari pilihan atas julukan untuk dirinya sendiri saja sudah terkesan semaunya. Prabu Belgeduwel Beh, Maharaja Thong Thong Sot dan Adipati Thok Kethitok Jenggleng.

Sang Raja sebenarnya adalah seorang abdi di kerajaan Madukara yang sedang dikasihi dewata, sehigga terkabulah semua yang dikehendakinya. Karena ajimat kerajaan Indraprasta atau Amarta yaitu Jamus Kalimasada berada dalam genggamannya.
Tentang sebab hingga bisa berada di tangan si Petruk Kantong Bolong, tidak lain adalah untuk menarik perhatian agar para pemilik yang sebenarnya datang untuk mendapatkannya kembali. Hal ini terjadi, karena setelah berhasil direbut dari musuh, para majikan Sang Petruk, telah lupa akan kewajibannya sebagai penguasa.

Dikisahkan, bahwa Raja Himahimantaka, Prabu Bumiloka berkeinginan memperluas wilayah jajahan. Tidak hanya para penguasa di seberang lautan. Namun para penguasa tanah Jawa : Kerajaan Wiratha, Pancala, Amarta, Mandura, Dwarawati semua akan ditundukkan di bawah kendali Himahimantaka. Prabu Bumiloka memiliki saudara perempuan bernama Dewi Mustakaweni, mereka berdua sama-sama memiliki kesaktian dan terkenal bisa berubah wujud sesuai keinginan. Keinginan Prabu Bumiloka untuk memperluas jajahan didukung oleh sang adik, Dewi Mustakaweni. Pujangga kerajaan Himahimantaka, Resi Kala Ndaru memberi masukan, bahwa Prabu Bumiloka akan dapat mewujudkan keinginannya, jika memiliki Jimat Kalimasada, pusaka prabu Yudhistira, jika tidak, maka keinginan itu tidak akan kesampaian.Dewi Mustakaweni memberikan kesanggupannya, kemudian berganti pakaian. Tiba-tiba wujudnya berubah, tak beda sedikitpun dengan satria Pringgodani yaitu Raden Harya Gathutkaca. Dengan demikian, sang kakak percaya, bahwa misinya akan berhasil.

Ketika itu Para Pendawa sedang berkumpul untuk membangun Astana Gandamadana, dan yang sedang berada di kerajaan hanyalah Dewi Drupadi ditemani Dewi Wara Srikandi, tak lama kemudian datanglah tamu Sang Gathutkaca gadungan, mengatakan kalau diutus untuk mengambil Jamus Kalimasada, karena pembangunan candi beberapa kali ambruk, harus dibentengi dengan pusaka kerajaan, demikianlah yang diucapkan oleh Gathutkaca palsu itu. Dewi Srikandhi sedang di dapur dan akan menghidangkan minuman, ketika Jamus Kalimasada telah diserahkan kepada penipu yang berganti rupa itu, yang tanpa pamit segera melarikan diri.. ketika Dewi Wara Srikandhi diberitahu hal tersebut, segera mengejar sang penjahat. Tak berapa lama kemudian sang penipu telah tersusul, ketika ditanya, jawaban yang diberikan tidak sesuai. Bagaimana bisa begitu? Sang Gathutkaca palsu tersebut tidak mengenal Srikandhi, maka terjadilah perkelahian.
Namun ternyata dalam perkelahian itu Dewi Srikandhi tidak dapat mengimbangi kridha sang Gathutkaca gadungan. Maka digunakannya senjata andalannya yang berupa panah. Terkena anak panah Putri Pancala, sang Gathutkaca palsu tidak dapat mempertahankan penyamarannya dan kembali kedalam wujud aslinya yaitu Dewi Mustakaweni. Perkelahianpun dilanjutkan, namun ternyata gantian Dewi Mustakaweni yang mengalami kesulitan , kemudian melarikan diri dengan terbang ke angkasa. Karena tidak dapat terbang ke angkasa, maka Dewi Srikandhi mengikutinya melalui darat.

Ketika perjalanannya sampai dipinggir hutan, bertemu dengan kesatria yang tampan dikawal keempat pengikutnya, yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Setelah saling bertanya, ternyata kesatria ini adalah Si Wajah Tampan Bambang Priyambada yang akan mengabdikan diri kepada orang tua kandungnya satria Madukara Raden Harjuna. Dewi Srikandi kemudian juga berterus terang, bahwa dirinya adalah istri Sang Harjuna, para panakawanpun ikut menjadi saksi. Pembaca harap maklum, bahwa Sang Harjuna atau Arjuna ini satria sakti dan tampan yang punya istri dimana-mana.
Namun demikian, saat ini Pandhawa sedang prihatin, karena pusaka Jamus Kalimasada telah hilang. Mendengar berita demikian, tanpa pamit Bambang Priyambada segera mengejar sang maling.

Dewi Srikandi berkata kepada Kyai Semar; Kakang Semar, lihatlah dengan saksama, perkataannya yang lemah lembut dan gerakannya yang trengginas tidak berbeda dengan ayahnya”.
Semarpun menjawab : “Sudah barang tentu. Tapi saya tidak tega melepasnya berjuang sendirian, ayo anak-anak segera disusul”.

Tak lama kemudian Dewi Mustakaweni telah tersusul oleh Bambang Priyambada, terjadilah silang sengketa dan dilanjutkan dengan perkelahian mengadu kesaktian, sama saktinya sama cerdik dan mumpuni berganti wujud. Merasa keteter, akhirnya Bambang Priyambada mengeluarkan senjata andalannya. Dewi Mustakaweni dihujani dengan anak panah, hingga seluruh busana terlepas dari tubuhnya, seketika menjatuhkan diri (MALU DONG… BUGIL), menyerah tanpa syarat. Pusaka Jamus Kalimasadapun diambil dan diserahkan kepada Petruk. Bambang Priyambada kemudian mengurus Dewi Mustakaweni dijadikan putri boyongan.

Tanpa disadari oleh siapapun, setelah Jamus kalimasada berada ditangan, Petruk makin menjauh dari tempat itu sambil berkata, “Si Bos Priyambada ini segalanya persis seperti Bos Janaka (Harjuna), baik ketampanan, ketangkasan maupun kesaktiannya. Hanya saja sangat mudah kecantol, kalau melihat cewek cakep dan masih gadis, sama seperti saya kalau melihat nasi pulut (ketan). Kalau aku memperhatikan Si Bos, hatiku malah tidak karu-karuan, jimat Kalimasada telah ditangan, wah pergi saja, mencari ketenaran.”. Berkata demikian sambil memanfaatkan Jamus Kalimasada agar dapat terbang, maka seketika itu juga terbanglah Sang Petruk.

Setelah berada di ketinggian, dilihatnya kearah bawah sambil berkata:, “ Oooo betapa indahnya, gunung dan sungai-sungai, sawah dan ladangnya, tanam-tanaman yang sedap dipandang mata, alangkah bahagianya kaum tani, betapa makmurnya negeri ini. Wah, diatas itu memang enaaak. Makanya banyak yang lupa daratan, beradu strategi dan taktik, bila perlu adu jotos, berebut kedudukan dan jabatan. Ini lagi jaman edan, kalau nggak edan nggak kebagian, ayo jadi orang edan”.

Tanpa sengaja Petruk mendarat di ibukota kerajaan Sonyawibawa dan bertanya kepada seorang prajurit : “ Mas, ini negeri mana, hadapkanlah aku kepada Sang Raja”.
Diperolehlah jawaban: “Pak Lamdahur (ARTINYA : TINGGI BESAR), ini negeri Sonyawibawa. Kamu tidak boleh menghadap , bila tidak dipanggil”.

Petruk memaksa: “ diijinkan aku masuk, tidak diijinkanpun aku tetep masuk, mengajak berantem tak ladeni, melawan tak selesaikan, mau marah aku juga bisa marah”. “Kalau tidak percaya dengan omonganku, ayo keroyoklah dengan mertuamu sekalian, aku tidak akan mundur”. Perkelahianpun tidak dapat dihindarkan, Petruk dikeroyok prajurit Sonyawibawa. Namun tak ada yang mengalahkan Petruk, karena sedang dilindungi oleh para dewa, bahkan raja dan para hulubalangpun akhirnya menyerah. Tampuk kekuasaan dan singgasanapun akhirnya diserahkan dan Petrukpun diwisuda, bergelar: Prabu Belgeduwel Beh, Narpati Thong Thong Sot dan Adipati Thok Kethithok Jenggleng. Mendengar gelar sang raja yang baru tersebut, sekalian yang hadir tertawa terpingkal-pingkal. Pagi harinya, pada pertemuan akbar yang digelar Sang Prabu bersabda : “Dengarlah Sang Raja Sonyawibawa, para Menteri dan Bupati, sebenarnya aku tidak bermaksud untuk menjajah. Suatu saat, kalau telah selesai aku memberi pengajaran kepada para pemimpinku, kekuasaan akan kembali aku serahkan. Sekarang ayo ikut aku untuk menyerang tanah Jawa.”

Maka berangkatkah seluruh balatentara yang ada. Pertama kali diseranglah negeri Hastina, maka Prabu Suyudhana dan para Korawa menyerah. Para kesatria Pandhawa yang dipimpin oleh Sri Kresna pun mencegat Prabu Belgeduwel Beh, namun juga tidak berhasil. Kemudian Gareng dan Bagong diutus untuk menghadapi yang sedang berjaya di medan laga.

Prabu Belgeduwel Beh pun menantang Gareng dan Bagong.
“Heee, rajanya orang miskin, majulah, itu yang tangannya cacat dan yang matanya lebar.”

Gareng dan Bagongpun menggunakan strategi jitunya, Prabu Belgeduwel Beh dikeroyok dua orang dan dikilik kitik pinggangnya. Tidak tahan dengan senjata andalan yang dipergunakan dua orang musuhnya, akhirnya terbukalah penyamaran Petruk. Jamus Kalimasada dikembalikan kepada Sri Puntadewa, keadaanpun berangsur-angsur aman kembali.

Sumber : Panyebar Semangat No 01 tahun 2002, naskah Ki Nayantaka.

Tragedi Anak Panah

Posted in Wayang Trondol with tags , , , , , , on September 30, 2010 by Slamet Sutrisno

Sumantri atau Patih Suwondo itu gugur. Rahwana berhasil membunuhnya, bahkan dengan senjata milik Sumantri sendiri. Tubuh anak muda itu setengah hancur, dicincang anak panah Cakrabaskara.

Ya, Sumantri gugur dengan mengenaskan. Tapi ia segera naik ke surga. Dan di sana, Patih Suwondo itu bertemu dengan Sukrosono, adiknya yang setia. Mereka seperti mengulang kembali masa kanak-kanak yang bahagia, melupakan dendam dan rasa bersalah. Tragedi ”anak panah” di antara keduanya bagai tak pernah terjadi.

Sumantri dan Sukrosono adalah anak Resi Wisanggeni. Sejak kanak-kanak, Sumantri memang telah menyiapkan masa depannya. Ia telah memiliki cita-cita untuk memberikan dharma baktinya sebagai seorang kesatria. Atas petunjuk ayahandanya, Sumantri pergi ke Maespati untuk mengabdi pada Prabu Harjuna Sasrabahu. Segala persiapan yang telah dilakukannya selama ini dirasanya telah cukup. Pada pagi yang belum sempurna, ia melangkah ke utara. Ia tinggalkan Sukrosono, adiknya yang bocah bajang yang buruk rupa, keriting, cebol, dan agak hitam itu. Dengan penampilan fisik semacam itu, mungkin Sumantri merasa adiknya hanya akan menjadi perintang. Meski ia tahu, kesaktian Sukrosono satu tingkat di atasnya. ”Aku sengaja pergi pagi-pagi benar pada saat kau masih lelap. Maafkan aku, adikku,” kata Sumantri pada hari kepergiannya.

Sukrosono yang terbangun pada pagi hari itu terkejut, karena tidak dilihatnya sang kakak. Bahkan semua barang pribadi milik Sumantri juga tidak kelihatan. Maklumlah Sukrosono, bahwa Sumantri yang dicintai lahir batin, telah meninggalkan dirinya. Menangislah Sukrosono: “ Akang Ati… Akang Ati… Aku elu… aku elu … Akang….” Demikian dia berkata dengan terbata-bata dengan bicaranya yang cedal. Sebenarnya dia ingin berkata ” Kakang Sumantri, Kakang Sumantri, aku melu – aku melu Kakang”.(Kakang Sumantri… Kakang Sumantri… Aku ikut… aku ikut …Kakang…) Barangkali Sumantri memang laki-laki pilihan dewa. Tugas pertama yang didapatnya ketika akan mengabdi pada prabu Harjuna Sasrabahu adalah membela negeri Magada, negerinya Dewi Citrawati, yang sedang ditaksir ole Prabu Harjuna Sasrabahu. Dalam suatu pertempuran, ia berhasil membebaskan Negeri Magada dari kepungan pasukan Widarba. Ia menang telak. Pasukannya membawa banyak tawanan dan rampasan; emas-berlian, ternak, dan para putri. Tapi Sumantri tak segera pulang. Di perbatasan, ia justru mengirim surat ke Maespati dan menantang Harjuna Sasrabahu perang tanding.

Ada kesombongan yang tiba-tiba melonjak. Juga ketidakpercayaan akan kekuatan dan kesaktian sang raja. Setidaknya, ada dua tafsir tentang sikap itu. Pertama, Sumantri sekadar ingin lebih meyakinkan diri tentang kepatutan raja yang ia abdi. Kedua, ia tengah mabuk kemenangan. Apa pun alasannya, Sumantri akhirnya kalah melawan prabu Harjuna Sasrabahu , dan ia menerima hukumannya: untuk memindahkan Taman Sriwedari dari khayangan ke istana. Sebuah tugas yang mustahil dan membuat Sumantri hampir putus asa. Namun disaat itu Sukrosono adiknya datang. Dengan kesaktiannya, tugas itu ia selesaikan dengan baik.

Sayang, kehadiran Sukrosono yang buruk rupa membuat kekacauan para penghuni keputren yang sedang menyaksikan keindahan taman Sriwedari. Sumantri malu dan meminta adiknya segera pergi. Tapi Sukrosono menolak. Hingga akhirnya Sumantri membidikkan anak panah ke arahnya. Tanpa diduga anak panah lepas. Sumantri kaget, tapi terlambat. Adiknya tewas terkena panahnya. Manusia macam apakah Sumantri?

Dalam Tripama, sebagai patih Suwondo ia disebutkan memiliki tiga kelebihan; pandai, selalu menyelesaikan pekerjaannya, dan jika perlu mempertaruhkan nyawa. Tapi serat itu juga menyimpan satu pertanyaan penting; apakah Sumantri memiliki hati nurani? Itulah masalahnya. Dan tak hanya dalam jagad pewayangan, di dunia yang real sekarang ini, sosok-sosok Sumantri banyak berkeliaran. Ia mengambil manfaat pada saat membutuhkan, kemudian mencampakkan ketika mulai merasa jijik. Pandangan matanya atas gemerlap duniawi, telah membutakan mata hatinya. ” Akang Ati …Akang Ati aku elu..aku elu Akang ………”

Ujian untuk Begawan Wisrawa

Posted in Wayang Trondol with tags , , , , , , , on September 28, 2010 by Slamet Sutrisno

Dalam sejarah manusia, yang namanya harta, tahta dan wanita adalah batu ujian bagi makhluk yang namanya laki-laki. Batu ujian ini tingkat daya ujinya bergradasi sesuai dengan sasaran atau subyek ujinya. Mudahnya kata, semakin tinggi tingkatan seseorang akan diuji oleh sesuatu yang daya godanya akan semakin tinggi pula.

Alkisah, di kerajaan Lokapala yang sedang berkuasa adalah Prabu Danaraja, putra dari Resi Wisrawa dengan Dewi Lokawati. Kabar-kabar angin yang sampai ditelinganya membawa berita yang sangat menggetarkan jiwa mudanya. Harta dan tahta sudah berada dalam genggaman, tidak lain karena posisinya sebagai seorang raja tentunya. Yang masih kurang dalam hidupnya, karena belum hadirnya seorang wanita sebagai pendampingnya yang sekaligus akan berperan sebagai Ibu Negara.

Maka ketika kabar kecantikan Dewi Sukesi sampai di telinganya, segeralah sang raja mengirim utusan untuk segera melamar sang Dewi. Adapun yang diutus adalah Resi Wisrawa, ayah sang raja.

Di jagat pewayangan tersebutlah ada satu ilmu nggegirisi yang bernama Ilmu Sastrajendra Hayuningrat. Sebagai seorang Resi yang telah malang melintang disegenap ilmu guna kasantikan, maka Resi Wisrawapun menguasai ilmu ini, bahkan dalam tataran tertinggi.

Dewi Sukesi, yang gadis remaja dan konon kecantikannya mampu menggoncangkan Kahyangan, mendengar pula bahwa dimuka bumi ini ada ilmu yang unik ini. Maka betapa inginnya gadis itu menguasainya. Konon untuk menyaring para pelamarnya yang ribuan jumlahnya, yang terdiri dari para kesatria, raja dan bahkan para resi, Dewi Sukesi punya permintaan. Barang siapa yang mampu mengajarkan Ilmu Sastrajendra Hayuningrat pada dirinya, itulah yang lamarannya bakal diterima.

Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu hanya sebagai kunci untuk dapat memahami isi Rasa Jati, dimana untuk mencapai sesuatu yang luhur diperlukan mutlak perbuatan yang sesuai. Rasajati memperlambangkan jiwa atau badan halus ataupun nafsu sifat tiap manusia, yaitu keinginan, kecenderungan, dorongan hati yang kuat, kearah yang baik maupun yang buruk atau jahat. Nafsu sifat itu ialah; Lumamah (angkara murka), Amarah, Supiyah (nafsu birahi). Ketiga sifat tersebut melambangkan hal-hal yang menyebabkan tidak teraturnya atau kacau balaunya sesuatu masyarakat dalam berbagai bidang, antara lain: kesengsaraan, malapetaka, kemiskinan dan lain sebagainya. Sedangkan sifat terakhir yaitu Mutmainah (nafsu yang baik, dalam arti kata berbaik hati, berbaik bahasa, jujur dan lain sebagainya) yang selalu menghalang-halangi tindakan yang tidak senonoh.

Saat wejangan tersebut dimulai, para dewata di kahyangan marah terhadap Resi Wisrawa yang berani mengungkapkan ilmu rahasia alam semesta yang merupakan ilmu monopoli para dewa. Para Dewa sangat berkepentingan untuk tidak membeberkan ilmu itu ke manusia. Karena apabila hal itu terjadi, apalagi jika pada akhirnya manusia melaksanakannya, maka sempurnalah kehidupan manusia. Semua umat di dunia akan menjadi makhluk sempurna di mata Penciptanya.Dewata tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Maka digoncangkan seluruh penjuru bumi. Bumi terasa mendidih. Alam terguncang-guncang. Prahara besar melanda seisi alam. Apapun mereka lakukan agar ilmu kesempurnaan itu tidak dapat di jalankan.

Semakin lama ajaran itu semakin meresap di tubuh Sukesi. Untuk tidak terungkap di alam manusia, maka Bhatara Guru langsung turun tangan dan berusaha agar hasil dari ilmu tersebut tetap menjadi rahasia para dewa. Karenanya ilmu tersebut harus  tetap utuh berada dalam rahasia dewa. Oleh niat tersebut maka Bhatara Guru turun ke bumi masuk ke dalam badan Dewi Sukesi. Dibuatnya Dewi Sukesi tergoda dengan Resi Wisrawa. Dalam waktu cepat Dewi Sukesi mulai tergoda untuk mendekati Wisrawa. Namun Wisrawa yang terus menguraiakn ilmu itu tetap tidak berhenti. Bahkan kekuatan dari uraian itu menyebabkan Sang Bathara Guru terpental keluar dari raga Dewi Sukesi. Tetapi Bathara Guru tidak menyerah begitu saja. Dipanggilnya permaisurinya yaitu Dewi Uma turun ke dunia. Bhatara Guru masuk menyatu raga dalam tubuh Resi Wisrawa sedang Dewi Uma masuk ke dalam tubuh Dewi Sukesi.

Tepat pada waktu ilmu itu hendak selesai diwejangkan oleh Resi Wisrawa kepada Dewi Sukesi, datanglah suatu percobaan atau ujian hidup. Sang Bhatara Guru yang menyelundup ke dalam tubuh Bagawan Wisrawa dan Bhatari Uma yang ada di dalam tubuh Dewi Sukesi memulai gangguannya terhadap keduanya. Godaan yang demikian dahsyat datang menghampiri kedua insan itu. Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi yang menerima pengejawantahan Bhatara Guru dan Dewi Uma secara berturut-turut terserang api asmara dan keduanya dirangsang oleh nafsu birahi. Dan rangsangan itu semakin lama semakin tinggi. Tembuslah tembok pertahanan Wisrawa dan Sukesi. Dan terjadilah hubungan yang nantinya akan membuahkan kandungan.

Begawan Wisrawa lupa, bahwa ia pada hakekatnya hanya berfungsi sebagai wakil anaknya belaka. Dan akibat dari godaan tersebut, sebelum wejangan Sastra Jendra selesai, keburu hubungan antara Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi terjadi, kenyataan mengatakan mereka sudah merupakan suami-istri. Seusai gangguan itu Bathara Guru dan Dewi Uma segera meninggalkan dua manusia yang telah langsung menjadi suami istri.

Sadar akan segala perbuatannya, mereka berdua menangis menyesali yang telah terjadi. Namun segalanya telah terjadi. Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu gagal diselesaikan. Dan hasil dari segala uraian yang gagal diselesaikan itu adalah sebuah noda, aib dan cela yang akan menjadi malapetaka besar dunia dikemudian hari. Tetapi apapun hasilnya harus dilalui. Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi membeberkan semuanya apa adanya kepada sang ayah Prabu Sumali.

Dengan arif Prabu Sumali menerima kenyataan yang sudah terjadi. Dan Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi resmi sebagai suami istri, dan seluruh sayembara ditutup.

Berbulan-bulan di Lokapala, Danaraja menunggu datangnya sang ayah yang diharapkan membawa kabar bahagia. Ia telah mendengar kabar bahwa sayembara Dewi Sukesi telah berhasil dimenangkan oleh Resi Wisrawa. Sampai suatu saat Wisrawa dan Sukesi kembali ke Lokapala. Dengan sukacita Danaraja menyambut keduanya. Namun Wisrawa datang dengan wajah yang kuyu dan kecantikan sang dewi yang diagung-agungkan banyak orang itu tampak pudar. Danaraja, merasa mendapatkan suasana yang tidak nyaman, kemudian bertanya pada ayahnya. Di depan istri dan putranya, Wisrawa menceritakan semua kejadian yang dialaminya dan secara terus terang mengakui segala dosa dan kesalahannya. Namun kesalahan tersebut merupakan kesalahan yang amat teramat fatal dimata Danaraja. Mendengar penuturan ayahnya, Prabu Danaraja menjadi sangat kecewa dan marah besar. Danaraja tidak dapat mempercayai bahwa ayahnya tega mencederai hati putra kandungnya sendiri. Kemarahan itu sudah tak terbendung. Danaraja lalu mengusir  kedua insan yang telah berstatus sebagai suami-istri tersebut keluar dari negara Lokapala. Akhirnya dengan penuh duka, sepasang suami istri itu kembali ke negara Alengka.

Dalam perjalanan kembali menuju Alengka, Dewi Sukesi yang sudah mulai hamil itu tidak dapat berbuat banyak. Tubuhnya yang mulai kehilangan tenaga tampak kuyu dan pucat. Setelah berbulan-bulan perjalanan yang melelahkan, tiba saat melahirkan. Di tengah hutan belantara padat, Dewi Sukesi tak kuasa lagi menahan lahirnya sang bayi. Akhirnya lahirlah jabang bayi itu dalam bentuk gumpalan daging, darah dan kuku. Dewi Sukesi terkejut juga Resi Wisrawa. Gumpalan itu bergerak keluar dari rahim sang ibu menuju kedalam hutan. Kesalahan fatal dari dua orang manusia menyebabkan takdir yang demikian buruk terjadi. Gumpalan darah itu bergerak dan akhirnya menjelma menjadi tiga bayi berwajah raksasa, dua orang bayi laki-laki raksasa sebesar bukit dan satu orang bayi perempuan yang ujud tubuhnya ibarat bidadari, tetapi wajahnya berupa raksasa perempuan.

Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi hanya dapat berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Sang Penguasa Alam. Ketiga bayi itu lahir ditengah hutan diiringi lolongan serigala dan raungan anjing liar. Auman harimau dan kerasnya teriakan burung gagak. Suasana yang demikian mencekam mengiringi kelahiran ketiga bayi yang diberi nama Rahwana, Sarpakenaka dan Kumbakarna. Dengan kepasrahan yang mendalam, Wisrawa dan Sukesi membawa ketiga anak-anaknya ke Alengka.

Tiba di Alengka, Prabu Sumali menyambut mereka dengan duka yang sangat dalam. Kesedihan itu membuat Sang Prabu raksasa yang baik hati ini menerima mereka dengan segala keadaan yang ada. Di Alengka Wisrawa dan Sukesi membesarkan ketiga putra-putri mereka dengan setulus hati. Rahwana dan Sarpakenaka tumbuh menjadi raksasa dan raksesi beringas, penuh nafsu jahat dan angkara. Rahwana tampak semakin perkasa dan menonjol diantara kedua adik-adiknya. Kelakuannya kasar dan biadab. Demikian juga dengan Sarpakenaka yang makin hari semakin menjelma menjadi raksasa wanita yang selalu mengumbar hawa nafsu. Sarpakenaka selalu mencari pria siapa saja dalam bentuk apa saja untuk dijadikan pemuas nafsunya.

Sebaliknya Kumbakarna tumbuh menjadi raksasa yang sangat besar, tiga sampai empat kali lipat dari tubuh raksasa lainnya. Ia juga memiliki sifat dan pribadi yang luhur. Walau berujud raksasa, tak sedikitpun tercermin sifat dan watak raksasa yang serakah, kasar dan suka mengumbar nafsu. Namun perasaan gundah dan sedih menggelayut di relung hati Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Ketiga putranya lahir dalam wujud raksasa dan raksesi. Kini Dewi Sukesi mulai mengandung putranya yang keempat. Akankah putranya ini juga akan lahir dalam wujud rasaksa atau raseksi? Dosa apakah yang telah mereka lakukan? Ataukah akibat dari gejolak nafsu yang tak terkendali sebagai akibat penjabaran Ilmu Sastrajendra Hayuningrat yang telah dilakukan oleh Resi Wisrawa kepada Dewi Sukesi? Sadar akan kesalahannya yang selama ini terkungkung oleh nafsu kepuasan, Resi Wisrawa mengajak Dewi Sukesi, istrinya untuk bersemadi, memohon pengampunan kepada Sang Maha Pencipta, serta memohon agar dianugerahi seorang putra yang tampan, setampan Wisrawana/Danaraja, putra Resi Wisrawa dengan Dewi Lokawati, yang kini menduduki tahta kerajaan Lokapala. Sebagai seorang brahmana yang ilmunya telah mencapai tingkat kesempurnaan, Resi Wisrawa mencoba membimbing Dewi Sukesi untuk melakukan semadi dengan benar agar doa pemujaannya diterima oleh Dewata Agung.

Berkat ketekunan dan kekhusukkannya bersamadi, doa permohonan Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi diterima oleh Dewata Agung. Setelah bermusyawarah dengan para dewa, Bhatara Guru kemudian meminta kesediaan Resi Wisnu Anjali, sahabat karib Bhatara Wisnu, untuk turun ke marcapada menitis pada jabang bayi dalam kandungan Dewi Sukesi. Dengan menitisnya Resi Wisnu Anjali, maka lahirlah dari kandungan Dewi Sukesi seorang bayi lelaki yang berwajah sangat tampan. Dari dahinya memancar cahaya keputihan dan sinar matanya sangat jernih. Sebagai seorang brahmana yang sudah mencapai tatanan kesempurnaan, Resi Wisrawa dapat membaca tanda-tanda tersebut, bahwa putra bungsunya itu kelak akan menjadi seorang satria yang cendekiawan serta berwatak arif bijaksana. la kelak akan menjadi seorang satria yang berwatak brahmana. Karena tanda-tanda tersebut, Resi Wisrawa memberi nama putra bungsunya itu, Gunawan Wibisana. Karena wajahnya yang tampan dan budi pekertinya yang baik, Wibisana menjadi anak kesayangan Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Dengan ketiga saudaranya, hubungan yang sangat dekat hanyalah dengan Kumbakarna. Hal ini karena walaupun berwujud raksasa, Kumbakarna memiliki watak dan budi yang luhur, yang selalu berusaha mencari kesempurnaan hidup.

Nun jauh di negara Lokapala, Prabu Danaraja masih memendam rasa kemarahan dan dendam yang sangat mendalam kepada ayahnya. Hingga detik ini dia masih tidak dapat menerima perlakuan ayahnya yang dianggapnya mengkhianati dharma bhaktinya sebagai anak. Sang Resi Wisrawa sebagai ayah dianggapnya telah menyelewengkan bhakti seorang anak yang telah dengan tulus murni dari dalam bathin yang paling dalam memberikan cinta dan kehormatan pada ayah kandung junjungannya. Rasa ini benar-benar tak dapat ia tahan hingga suatu saat Prabu Danaraja mengambil sikap yang sudah tidak bisa ditawar lagi. Prabu Danaraja lalu mengerahkan seluruh bala tentara Lokapala dan memimpinnya sendiri untuk menyerang Alengka dan membunuh ayahnya sendiri yang sudah tidak memiliki kehormatan lagi dimatanya.

Alengka dan Lokapala bentrok dan terjadi pertumpahan darah. Pertumpahan darah yang ditujukan hanya untuk dendam seorang anak pada ayahnya. Resi Wisrawa tidak dapat diam melihat semua ini. Ribuan nyawa prajurit telah hilang demi seorang Brahmana tua yang telah penuh dengan dosa.

Wisrawa segera turun ke tengah pertempuran dan menghentikan semuanya. Kini ia berhadap-hadapan dengan Danaraja, anaknya sendiri. Dengan mata penuh dendam, Danaraja mengayunkan pedang menebas leher Wisrawa. Darah mengucur deras, Wisrawa roboh di tengah-tengah para prajurit kedua negara. Melihat Resi Wisrawa tewas dalam peperangan melawan Prabu Danaraja, Dewi Sukesi berniat untuk membalas dendam kematian suaminya. Rahwana yang ingin menuntut balas atas kematian ayahnya, dicegah oleh Dewi Sukesi. Kepada keempat putranya diyakinkan, bahwa mereka tidak akan mampu mengalahkan Prabu Danaraja yang memiliki ilmu sakti Rawarontek, yaitu meski tubuh hancur berkeping keping akan tetap dapat bersatu dan hidup lagi asal menyentuh tanah. Untuk dapat mengalahkan dan membunuh Prabu Danaraja. Mereka harus pergi bertapa, mohon anugrah Dewata agar diberi kesaktian yang melebihi Prabu Danaraja, yang sesungguhnya masih saudara satu ayah mereka sendiri, sebagai bekal menuntut balas atas kematian ayah mereka. Berangkatlah mereka melaksanakan perintah ibunya.

Tunggu lanjutannya.