Archive for the Uncategorized Category

Nyalang

Posted in Uncategorized with tags on August 23, 2016 by Slamet Sutrisno

Nyalang mata sepanjang malam

Urat leherku menegang

Denyut nadiku menjulang

Nafasku binal bagai kuda liar

Ini dini hari

Tapi darahku sepanas titik api

Sungguh mudah kupadamkan bara di tungku

Namun tidak yang di dalam dadaku

 

Menteng, Februari 2016

Kota Tua

Posted in Uncategorized on August 23, 2016 by Slamet Sutrisno

Bulan terbelah di langit kota tua
Retak seperti hatiku
Robek seperti jantungku
Tersayat seperti jiwaku
Ngilu

Menteng, 13 Januari 2016

Jakarta Oh Jakarta – bagian 1

Posted in Uncategorized with tags on November 29, 2013 by Slamet Sutrisno

Berita bahwa saya dipindah tugaskan ke Jakarta saya terima secara tidak sengaja. Lho kok bisa. Di perusahaan tempatku bekerja, kalau ada pegawai pindah, selain mendapat SK pindah, akan dibuatkan surat perintah jalan, sekaligus dikasih uang saku untuk melaksanakan kepindahan tersebut. Tentunya ada bagian tersendiri yang mengurusi hal tersebut. Seperti layaknya perusahaan besar, segala komunikasi internal dilakukan dengan menggunakan media elektronik seperti e-mail dan lain-lain.
monash
Demikian pula bagian yang membuat surat perintah jalan tersebut. Untuk mengetahui kapan tepatnya saya akan berangkat, maka bagian ini menanyakannya melalui e-mail. Jadi saya sudah tahu terlebih dahulu bahwa saya akan dipindahkan ke Jakarta sebelum manajemen menyampaikan SK pindah secara resmi.

Aduh, Jakarta. Kota yang selama puluhan tahun saya berusaha menghindarimu, akhirnya engkau mengundangku juga untuk datang.

Bayanganku yang muram tentang Jakarta terus berkelebat dalam otak. Jadi anak, eh …kakek kost (karena umurku sudah 52 tahun) dan makan di warung tiap hari. Tidak jadi soal, kataku dalam hati. Toh masa tugasku tinggal beberapa saat lagi.

Karena ada beberapa orang teman yang sudah di Jakarta dengan lokasi yang sama, maka saya kontak untuk di pesenkan kamar kost. Yang pake AC ya, pesanku wanti-wanti. Beres, jawab mitraku di seberang sana. Tanggal 25 September 2013 pagi hari saya berangkat ke Jakarta dengan kereta api. Setelah sampai dan melapor di kantor Jakarta, langsung ku hubungi temen untuk segera melihat tempat kost. Memang ada beberapa kamar yang masih kosong, tapi hanya pakai kipas angin. Tidak apa…langsung masuk. Tapi apa yang saya duga memang terjadi, pagi harinya badan pegal-pegal karena semalaman ditiup pakai kipas angin.

Beruntung tiga hari kemudian ada teman yang pindah kost, karena memang lokasi kerja juga pindah, meskipun masih satu kota. Tapi kamar yang ditinggalkannya termasuk yang paling mahal, selain pake AC juga ukurannya paling besar. Hitung-hitung biaya kontraknya setahun sama dengan harga kontrak satu rumah selama setahun di Bandung. Akhirnya sayapun jadi penghuni kamar ber AC yang hanya dingin menjelang dini hari itu, maklum AC nya kayaknya sudah uzur, suaranya aja yang kenceng.

Kalau di kalkulasi lagi, baik pake kalkulator beras maupun kalkulator science yang sering dipakai anak kuliah teknik, ternyata kenaikan gajiku karena pindah ke Jakarta hanya habis untuk kost, transportasi dan lain-lain. Ya sudahlah, apa boleh buat. Jakarta oh Jakarta, mengapa hargamu demikian mahal.

Sepedaan, Minggu 29 Januari 2012

Posted in Uncategorized with tags , on January 29, 2012 by Slamet Sutrisno

“Minggu pagi  jam 6 kumpul pusda’i route dago -cihampelas-cipaganti, sederhana, cihampelas-finish mang oyo hehe”, begitu bunyi sms yang saya terima.

Sepedaan hari ini sebenarnya tidak direncanakan. Hanya saja Sabtu siang, saya terima undangan dari Mas Barkah untuk sepedaan hari Minggu. Sempat saya forward pada teman-teman sehobby yang nomornya tercatat, namun hanya beberapa orang yang respon. Termasuk ustadz Lukman, pak ketua sepedaan juga berhalangan, karena ada jadwal ceramah.

Jam 05.30 saya sudah siap meluncur, tapi ternyata hujan yang tertahan sejak malam, akhirnya tumpah juga dari langit. Mas Barkah di Antapani yang saya kontak bilang bahwa di bawah sudah mulai reda. Jam 05.50 ketika gerimis belum berhenti saya mulai meluncur menuju titik temu di Pusda’i.
Wah, ternyata saya datang paling awal, baru kemudian disusul Pak Imam, Pak Tri, Pak Barkah, Pak Mitra dan Pak Zul. Ternyata Pak Arif, Pak Win dan beberapa teman sudah kumpul di RRI.

Bisik-bisik dengan pak Tri, demi “cost optimization” Bubur Mang Oyo sebaiknya diganti Bubur PMI. Pak Barkah yang punya gawepun setuju.

Setelah kumpul dan nyamper pak Faisal Syam sepeda kami gowes melewati bawah jembatan layang Surapati menuju arah ITB, dan terus melewati Babakan Siliwangi belok kiri ke arah Cihampelas. Sampai disini rehat sebentar sambil menunggu temen yang masih tertinggal. Perjalanan dilanjutkan dengan melaju di turunan Cihampelas, melewati setasiun utara, melewati viaduct, belakang Balai Kota, belok kanan,  sampai di perempatan Merdeka rehat lagi untuk menunggu yang tertinggal, sebelum akhirnya menuju bubur PMI.

Kami berpisah di PMI dan berjanji untuk mengulang perjalanan dengan rute yang berbeda. Salam gowes.

Konyol

Posted in Uncategorized with tags , , , , on December 11, 2011 by Slamet Sutrisno

Komandan ICFR (Internal Control for Finacial Reporting) kami boleh dibilang orang yang paling konyol di Unit kami, Internal Auditor. Kalau lagi nganggur kerjanya ngusili teman temannya.

Salah satu contoh, ketika kami sedang melaksanakan audit beberapa tahun lalu di daerah Bekasi.
Dia memang paling benci kalau ada temen yang ngrokok, terutama kalau ngrokok dalam kamar. Ada salah seorang dari kami yang punya kebiasaan, kapanpun waktunya, terbangun di malam hari sekalipun, langsung menyalakan rokoknya sampai kamar kayak kebakaran.
Suatu saat, lampu kamar sudah dimatikan. Penerangan kamar hanya mengandalkan sinar lampu yang masuk dari celah-celah gordyn jendela. Kami, beberapa orang yang tergabung satu kamar bersiap-siap untuk tidur. Temen yang perokok berat ini terlihat masih gelisah di pembaringannya.

Sejenak kemudian dia bangkit. Digapainya rokok dan korek api yang ada diatas meja. Demi menjaga agar temen-temennya tidak terganggu, tetap dibiarkannya penerangan kamar dalam keadaan remang-remang seperti itu. Terdeengar berulang-ulang dia berusaha menyalakan korek api dari kayu pohon pinus itu, tapi tidak berhasil. Kemudian dia keluar dari kamar. Wah, mungkin dia mau merokok diluar.

Sejenak kemudian terdengar suaranya mengumpat-umpat kalang kabut. ”Ada apa Kang?”tanya saya. ”Kurang ajar, ini pasti kerjaan si TB”. ”Kenapa sih?” tanya temen yang lain. ”Korek apinya sudah dinyalakan semua, pantesan nggak mau nyala”jawab yang diluar.
He..he..he… Temen-temen yang sudah ngantuk nggak jadi tidur, lampu kamarpun dinyalakan kembali.

Di bawah adalah tulisannya ketika sedang kesal menunggu progress report kegiatan audit ICFR yang nggak masuk-masuk.

Beda
 
Sambil menunggu laporan progres pelaksanaan pengujian ICFR yang sampai hari ini belum masuk seluruhnya, saya jadi ingat cerita tentang dua orang auditor yang  sedang menggembalakan sapi. Kedua auditor itu, sambil menunggui sapi-sapi mereka merumput, keduanya pun berbincang-bincang di bawah pohon.
 
Auditor 1 : Hm, kalau dilihat dari depan, sapi kita tidak ada bedanya yah?
Auditor 2 : Betul juga. Jangan-jangan nanti bisa tertukar.
Auditor 1 : Aku ada ide. Bagaimana kalau kau potong saja sebelah telinga sapimu? Jadi kita bisa bedakan.
Auditor 2 : Ide bagus.
 
Akhirnya mereka memotong sebelah telinga sapi milik Auditor 2.
 
Auditor 1: Wah… akhirnya… sapi kita tidak akan pernah tertukar.
Auditor 2: Benar. Tapi….. kalau dari belakang kok tetap sama yah?
Auditor 1: Benar juga. Jadi bagaimana?
Auditor 2: Begini, karena sapiku sudah dipotong telinganya, bagaimana kalau sekarang sapimu yang dipotong ekornya?
Auditor 1: Setuju !!
 
Dan mereka pun memotong ekor sapi milik Auditor 1.
 
Auditor 1: Nah, akhirnya sapi kita benar-benar tidak akan pernah tertukar.
Auditor 2: Iya. Eh, bagaimana kalau sekarang kita tes dulu. Tuh, ada anak SD lewat. Kalau anak SD saja bisa membedakan, apalagi orang dewasa kan ?
Auditor 1: Benar juga. Ayo kita panggil anak itu.
 
Auditor 1: Nak, bisa tidak kau membedakan kedua sapi itu?
Anak SD : Jelas saja bisa. Yang satu warnanya putih, yang satu warnanya coklat.
 
???????

Bagi mereka yang belum pernah bergaul rapat, akan menganggapnya sebagai humor yang segar. Tapi yang sudah terbiasa dengan kejahilannya, akan berkomentar “wah, ngejek nih….”

Salam buat rekan Tatang Basari dan
Dadi Abdurahman…………

Hello world!

Posted in Uncategorized on September 6, 2010 by Slamet Sutrisno

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!