Archive for the Peternakan Category

Pengkondisian Kandang Tangkar Murai Batu

Posted in Peternakan with tags , , , , on June 13, 2017 by Slamet Sutrisno

Seberapapun uang anda, ternak murai tanpa pemahaman dan pengetahuan maka
RAIHLAH KEBANGKRUTAN.
Itulah sebaris kalimat yang ditulis Mas Joko Sumardiyono, praktisi ternak MB sekaligus konsultan breeding di Grup WA PETERNAK MURAI. Pada postingan lanjutan disampaikan, bahwa pengkondisian kandang adalah hal yang paling utama dalam merintis ternak murai batu.
Secara garis besar pengkondisian kandang yang dimaksud adalah menciptakan suhu dan kelembaban udara seperti di habitat MB. Lalu di habitatnya berapakah suhu dan kelembaban yang ideal? Mas Joko merekomendasikan, suhu antara 25o-30oC dan tingkat kelembaban 60%-80%.
Lalu bagaimana kita bisa mengukur suhu dan kelembaban udara dengan akurat? Di pasaran ada alat yang namanya hygro thermometer. Ada hal yang mungkin bisa luput dari perhatian para penangkar, yaitu kapankah atau tepatnya jam berapakah kita melalukan pengukuran. Lakukanlah pengukuran pada tiga waktu yang berbeda, misalnya jam 08:00 pagi, jam 12:00, dan jam 15:00. Yang sangat mungkin terjadi adalah, bahwa di pagi hari, suhu rendah dan kelembaban tinggi. Sedangkan pada siang hari, suhu tinggi dan kelembaban rendah.
Lalu, bagaimana mengoreksi atau menyesuaikan hasil pengukuran dengan kondisi ideal yang diharapkan?
Misalnya, suhu yang terlalu panas, dapat diturunkan dengan mengurangi paparan cahaya sinar matahari ke kandang , misalnya dengan memasang paranet diatas kandang, menjaga agar ada sirkulasi udara. Sedangkan kelembaban rendah, dapat dinaikkan dengan melakukan penyiraman di lantai kandang.
Apabila kondisi suhu tinggi dan kelembaban rendah terjadi secara permanen, maka harus dilakukan upaya-upaya yang lebih permanen untuk mengatasi masalah. Misalnya, tingkat kelembaban yang rendah memang bisa diatasi dengan penyiraman lantai kandang, akan tetapi kalau tiap saat harus menyiram lantai kandang tentu sangat merepotkan. Salah satu alternatifnya adalah dengan memasukkan baki berisi air ke kandang tangkar. Baki yang tidak terlalu tinggi tapi lebar akan lebih baik. Karena permukaan air yang lebih lebar akan lebih memudahkan air untuk menguap ke udara untuk membantu meningkatkan kelembaban.
Suhu udara yang selalu tinggi dapat direduksi, baik dengan memasang paranet, mengurangi paparan langsung sinar matahari, menghindarii pemakaian bahan-bahan yang menyerap panas (misalnya atap seng), ataupun mendesain kandang sedemikian rupa, sehingga udara dalam kandang bisa mengalir. Udara mengalir bukan berarti jadi berangin kencang. Dengan udara yang mengalir, selain efektif menurunkan suhu udara, juga mengurangi konsentrasi gas amoniak dari kotoran dalam kandang.
Tulisan seputaran ternak MB ini akan saya buat dalam beberapa seri, yang satu dengan lainnya akan saling melengkapi. Adapun bahan-bahannya saya ambil dari literature, pengalaman yang dituangkan oleh teman-teman praktisi dalam grup WA, ataupun fb dan pengalaman pribadi.
Salam

Advertisements

Ngguyang Sapi

Posted in Otobio, Pertanian, Peternakan with tags , , on December 23, 2013 by Slamet Sutrisno

Ngguyang dalam bahasa Jawa, bahasa Indonesianya adalah memandikan. Namun istilah ngguyang dalam kontek bahasa Jawa adalah memandikan binatang-binatang ternak berkaki 4 yang besar, misalnya ngguyang sapi, ngguyang kebo atau ngguyang jaran.

Binatang ternak yang sudah biasa di guyang nampaknya sangat menikmati acara ini. Begitu sampai di sungai, setelah minum air sungai biasanya akan mengikuti aba –aba yang diperintahkan oleh Cah Angon. Cah angon adalah seseorang yang ngurusi ternak, baik dia sebagai pemilik maupun hanya sebagai orang upahan. Kalau di perintah rum….rummm (kependekan dari njerum… yang artinya: tiduran atau menggeletak) maka sapi atau kerbau akan segera melakukannya. Biasanya kita segera menciprati ternak itu dengan air, kemudian menggosok-gosoknya dengan segepok ilalang agar kotoran yang melekat di badannya hilang. Kemudian kalau kita bilang seh….sehhhh (kependekan dari nyiseh atau membalikkan badan), maka ternak itupun akan membalikkan badan dengan senang hati.

Gampang??
Bisa gampang, bisa jadi malapetaka.
Suatu saat kampung kami mendapat sapi bantuan Presiden. Sapi itu didatangkan dari Australia, katagori sapi perah. Mungkin waktu itu negeri kita sedang mengejar swasembada susu. Pastinya sapi-sapi ini di negeri aslinya tidak pernah dimandikan secara manual, dielus-elus dan digosok-gosok. Atau mungkin juga belum pernah diajak mandi di sungai. Waktu diajak ke sungai masih tenang-tenang saja, bahkan seperti sapi-sapi yang lain diapun minum sepuasnya. Tapi waktu disuruh berbaring, tentunya pakai bahasa Jawa, dia nggak ngerti. Ya sudah nggak apa-apa biar mandi sambil berdiri. Maka tali pengikatnyapun saya injak pakai kaki dan dengan menggunakan kaleng butut yang kutemukan, maka ku siramkan air sungai ke tubuhnya. Mungkin karena tidak menduga akan diperlakukan seperti itu, sang sapipun terkejut dan menjadi beringas. Diapun melompat dan berlari sekencang-kencangnya keluar dari sungai. Karena kaki masih bertahan untuk menginjak tali pengikat, maka akupun terpelanting jatuh ke sungai yang berbatu-batu.

Kucing Sahabat Burung

Posted in Peternakan with tags , on September 6, 2010 by Slamet Sutrisno

Burung kesayangan dimakan kucing. Sudah bukan rahasia lagi, begitu melihat burung, terbitlah air liur sang kucing. Bahkan ketika burung yang berada dalam kurungan itu digantungkan, sang kucing akan tahan berjam-jam menunggu dibawahnya, sambil berkali-kali melihat ke atas.

Maka ketika datang kesempatan, misalnya burung sedang kita kasih makan atau kandangnya sedang kita bersihkan dan kita lengah, dalam beberapa detik burung berharga ratusan ribu itu akan menjadi santapan yang lezat bagi sang kucing. Atau malam hari, ketika burung-burung kita pindah ke garasi yang tidak ada gantungannya dan hanya kita letakkan di antai garasi, ada celah sedikit yang memungkinkan pastilah pembantaian besar-besaran akan terjadi. Dengan kekuatan cakar-cakarnya, seekor kucing mampu merusak kurungan burung yang terbuat dari bambu dan melahap penghuninya. Kalaupun tidak berhasil melahap penghuninya, dijamin penghuninya bakalan stress berat dan mogok berkicau atau manggung.

Sebenarnya memberi sugesti pada kucing agar tidak agresif terhadap burung kesayangan sangat mudah dilakukan.
Sebelumnya, perhatikan reaksi timbal balik ini. Ketika seekor kucing mendekati sangkar burung dengan gerak-gerik yang agresif, maka sebagai reaksinya si burung akan menggelepar-gelepar ketakutan. Melihat tingkah lak burung tersebut, si kucing akan semakin beringas dan agresif melakukan penyerangan dengan kecepatan tidak terduga-duga. Sangat cepat. Sebaliknya kucing yang sudah kita beri sugesti, tidak akan menampakkan gerakan yang agresif. Burungpun biasanya cukup tenang. Bahkan ketika burung menggelepar karena takut, sang kucinglah yang justru akan kabur. Ini adalah hasil dari sugesti yang pernah diterima sang kucing.

Bagaimana caranya??
Pakailah burung murahan untuk kegiatan ini. Sebelumnya carilah lidi yang besarnya cukup untuk menyabet sang kucing.

Lakukan sugesti seperti di bawah ini.
Turunkanlah burung yang masih dalam sangkar tersebut dari gantungannya. Tangkap dan bawalah kucing peliharaan anda ke dekat kandang burung, tapi jangan dilepas. Ketika si kucing mulai beraksi terhadap burung (biasanya burung juga mulai menggelepar karena takut), pukullah telinga atau kepala kucing dengan lidi. Biasanya kucing akan mengkerutkan kepalanya dan melipat daun telinganya. Hentikan pukulan untuk sementara sampai si kucing beraksi lagi untuk menerkam burung, pukul lagi dengan lidi.

Setelah beberapa kali diperlakukan demikian, biasanya si kucing akan berusaha melepaskan diri dari pegangan kita dan ingin kabur, maka lepaskan saja. Naikkan lagi burung ke gantungan.
Dua atau tiga jam kemudian ulangi lagi sugesti tersebut.