Archive for the Pariwisata Category

MENJALIN KEBERSAMAAN DI PULAU TIDUNG

Posted in Pariwisata on June 29, 2015 by Slamet Sutrisno

Dimanakah Pulau Tidung? Yang jelas di jajaran kelompok Kepulauan Seribu. Rekan pem20150601_064454baca akan lebih cepat menemu20150601_073825kannya di Google Map daripada bertanya-tanya pada saya.
Kami berangkat dari halaman kantor kami pada jam 05 ++, Senin 1 Juni 2015IMG-20150603-WA0007. Keberangkatan yang tadinya direncanakan jam 05:00 terpaksa molor sedikit karena sesuatu dan lain hal. Dengan total pasukan kurang lebih 30 orang kami berangkat dari Kebon Sirih menuju Pelabuhan Muara Angke. Sekitar jam 06:30 kami sudah sampai di Muara Angke. Bau khas pelabuhan ikan menusuk hidung. Bagi yang tidak terbiasa perut pasti langsung berontak.
Ah, mungkin ada yang tidak beres. Ternyata kami tidak dapat segera naik kapal kayu menyeberang ke Pulau Tidung. Biarkan saja. Setelah kurang lebih satu jam menunggu, akhirnya naik juga kami ke kapal, dengan melompat dari satu kapal yang satu ke kapal yang lainnya. Udara laut yang panas mulai mengganggu sebelum kapal angkat jangkar.
Begitu kapal kayu mulai melaju dengan mesinnya yang gemuruh, maka para pesertapun mulai sumringah. Udara yang masih cukup panas agak teredam oleh hembusan angin dari lambung kapal. .Kamera professional sampai kamera gadget mulai beraksi. Ceritapun rasa rasanya tidak akan pernah terhenti.
Namun setelah setengah perjalanan lebih, ternyata suasananya mulai berubah. Celoteh tidak lagi riuh. Kamera kamera sudah mulai ditutup. Anggota rombongan mulai bergeletakan kepanasan dan kelelahan. Bahkan ada yang mabok laut.
Namun beberapa saat kemudian kami telah sampai. Dermaga Pulau Tidung adalah dermaga yang sederhana. Kami langsung ke tempat penyewaan sepeda. Dari dermaga sampai ke homestay kami bersepeda sambil membawa barang bawaan kami masing masing. Tapi bagi yang memerlukan bantuan, bawaannya akan dimuat pakai becak. Kami sampai di homestay dengan keringat yang bercucuran.
Setelah beristirahat sejenak kamipun menikmati makan siang ala back packer. Tapi semuanya kami babat dengan lahap.
Setelah kembali istirahat sejenak kamipun bersepeda lagi menuju pantai untuk menikmati permainan air seperti banana boat dll. Puas main banana boat, pie dll yang ditarik speed boat, beberapa orang mencoba melompat dari jembatan ke laut. Di dua permainan inilah nyali nyali teruji.
Puas dengan permainan kendaraan air, kami menuju lokasi snorkeling.
Puas main snorkeling kamipun bersepeda kembali ke homestay. Setelah rehat sejenak, sebagian dari kami bersepeda lagi menuju pantai untuk melihat sunset.
Setelah makan malam, hiburan dilanjutkan dengan nyanyi dan menari bersama sama, disambung dengan barbeque sederhana.IMG_005820150601_161621 20150601_171908

Anjar, Peggy, Eci, Chiquita…
Hari kedua.
Di hari kedua inilah agaknya terjadi kesimpang siuran informasi. Acara nonton sunrise akhirnya terpecah menjadi dua. Satu ke pantai timur, satunya ke pantai utara.
Setelah sarapan pagi, kamipun bersiap siap meninggalkan Pulau Tidung. Pulau yang bersahaja, tapi telah membuat kami ingin kembali menikmati laut dan pasirnya untuk waktu yang akan datang. IMG_0097 IMG_9803

Oom Tri, P Tjahjo (Buya), Mas Eka, Mas Nur,Mas Akbar, Kang Hafiz

IMG_9809

Bella……Debt Collector…

IMG_9815 IMG_9833 IMG_9931

Wah…Si Uci lepas kendali………..

20150602_055933 DSCN5791 DSCN5855 DSCN5869 DSCN5880 DSCN5890 DSCN5895 DSCN5916 DSC_0310 DSC_0358 DSC_0363 DSC_0606 DSC_0392IMG-20150601-WA0002 IMG-20150603-WA0000 IMG-20150603-WA0003 IMG-20150603-WA0017DSC_0451 DSC_0454 DSC_0457 DSC_0461 DSC_0467 DSC_0482 DSC_0496 DSC_0521 DSC_0606

Bakti Sosial Telkom Motorcycle Community, Legok Jawa-Ciamis 29-31 Maret 2013

Posted in Otomotif, Pariwisata with tags , , , , , on April 23, 2013 by Slamet Sutrisno

Bakti sosial kali ini tergolong istimewa. Bagaimana tidak? Para peserta boleh pilih, mau pakai mobil atau pakai motor. Selain personil penyapu ranjau yang pakai motor juga disiapkan driver sebagai penyapu ranjau yang menggunakan mobilpick-up. Perjalanan yang ditempuh sangat bervariasi. Aspal licin, jalan tanah berlumpur, tanah berbatu……lengkap. Kalau dilihat destinasinya, tepatlah kalau dikatakan sebagai wisata pantai. DSC01527
Pantai Batu Karas sore hari
DSC01534 Pantai Madasari. Jangan coba-coba mandi di pantai ini dik, kalau tidak ingin pulang tinggal KTP.DSC01518
Keluarga anggota TMCC mencoba mengangkat ikan tangkapan nelayan yang melaut pagi ini. Wuaaaahhhh ternyata berat juga ya???DSC01490DSC01491Nelayan menunggu saat yang tepat untuk melaut. Tidak mudah bagi nelayan di pantai selatan untuk melaut. Berkali-kali mereka mendorong perahu ketengah laut, mereka dihantam ombak dan kembali ke tepian sebelum sempat menghidupkan motor tempelnya.
DSC01492 Matahari terbit di pagi hari yang indah
DSC01493
DSC01494
DSC01496
DSC01501
Usiamu ibarat matahari terbit, tingginya baru sepenggalah dan panasnya belum seberapa. Sebentar lagi akan meninggi dan menerangi dunia.
DSC01510Persiapan pasar murah untuk warga.

Keluyuran Sendirian

Posted in Pariwisata on April 10, 2013 by Slamet Sutrisno

DSC01403Hasrat untuk melihat tempat-tempat baru kadang-kadang sulit untuk ditahan. Maka suatu saat saya juga ngeluyur sendirian.
Kemana ya?? Tiba-tiba saya ingat Situ Patenggang. Dari sana masih ada jalan ke arah barat menuju perkebunan teh. Maka kesanalah saya arahkan Trail TS 125. Keluar dari rumah jam 09.00 dan sudah nyampai di rumah lagi jam 16.00.
Inilah beberapa gambar yang berhasil saya rekam.
DSC01401
DSC01402

Kawah Putih, Situ Patengan, Walini 15 Nopember 2012

Posted in Pariwisata with tags , , , , on November 17, 2012 by Slamet Sutrisno

DSC_0292Beberapa hari sebelumnya memang sudah ada rencana untuk berlibur, sekalian menyemangati yang lagi menyelesaikan tugas akhir di kampus. Ternyata waktu yang dipilih bertepatan dengan milad istri tercinta dan seorang sahabat dekat.
Kawah Putih, itu memang tujuan utamanya. Enam belas tahun di Bandung belum pernah kesana. Dulu pernah ke Situ Patengan dan Walini, namun Kawah Putihnya di lewati.
Berangkat dari rumah jam 06.15, rombongan dibagi dua. Satu mobil dibawa anak laki menjemput keluarga sobat karib. Satu mobil saya kemudikan bersama keluarga. Saya dan keluarga nyamper Cici, mahasiswa yang sedang penelitian di perusahaan. Baru kemudian seluruh rombongan bertemu di depan terminal Leuwi Panjang untuk selanjutnya menuju wilayah Soreang.

Dua jam kemudian kami telah sampai di Kawah Putih.
Biaya parkir di lokasi yang terdekat dengan Kawah Putih terbilang mahal, Rp.150.000,00 per mobil. Memang sebutannya bukan retribusi parkir, tapi kontribusi pemeliharaan lingkungan hidup….pinter.

Dari pintu gerbang kawasan sampai titik parkir terdekat dengan Kawah Putih berjarak kurang lebih 5 km. Sebetulnya tanjakan tidak begitu tajam, namun mobil tidak dapat melaju dengan ringan. Mungkin karena tipisnya oksigen yang tersedia di udara. Dikiri kanan jalan jelas terlihat peringatan yang berulang ulang untuk menggunakan gigi versnelling satu.

Beberapa gambar saya tampilkan untuk mewakili keindahan kawasan Kawah Putih ini.

Puas ceprat cepret dan beberapa anggota rombongan yang mengeluh pusing, sakit kepala dan mual maka kami segera keluar dari are Kawah Putih. Memang di beberapa tempat diberi peringatan untuk tidak lebih dari 15 menit berada di sekitar kawah. Bau-bauan yang berasal dari kawah memang berpengaruh negatif bagi yang belum terbiasa.

Perjalananpun dilanjutkan menuju ke Situ Patengan.
Inilah beberapa gambar yang dapat disajikan.


Destinasi ketiga adalah kebun teh Walini. Disini tersedia beberapa wahana bermain, diantaranya kolam renang air hangat, extremme flying fox, dan All Terrain Vehicle yang dapat dinaiki berdua.
Jam sudah menunjukkan pukul 14 lewat. Perut sudah menuntut untuk diisi. Maka perjalananpun dilanjutkan kembali ke arah Bandung dengan tujuan RM Sindang Reret.
Kenyang dengan sajian yang sebenarnya tidak sesuai dengan nama besar Sindang Reret, kami meluncur ke arah kota. Namun sadar-sadar mobil makin lama makin dalam memasuki perkambungan dan kamipun berbalik arah. Namun berbalik arahpun ternyata masih keliru juga. Dari satu mobil yang penumpangnya pada bawa GPS mengatakan bahwa kami malah makin menjauhi Bandung. Maka kamipun sepakat agar yang bawa GPS jalan di depan.
Mungkin yang bawa GPS mengaktifkan mode “jalan pintas”,maka kamipun mendekati kota Bandung dengan melalui jalan off road. Salam.

Selintas Tour de Wonosari

Posted in Olah Raga, Pariwisata with tags , , , on March 26, 2012 by Slamet Sutrisno

Kali inisaya mengutip tulisan teman-teman yang saya ambil dari millist gowes

Lukman Abdurrahman

Adalah suatu rencana yang panjang sudah dari grup goweser IA (I@CC) untuk mencoba bergowes ria di luar kota Bandung, bahkan di luar Propinsi Jawa Barat. Alhamdulillah rencana tsb telah terlaksana, yakni bersepeda ria di Wonosari, Propinsi DI Yogyakarta pada tanggal 23-24 Maret 2012. 
 
Kegembiraan nampak dari para peserta sejak keberangkatan pada hari Kamis 22 Maret pukul 18.45. Betapa tidak, karena mereka pergi dengan pelepasan yang hangat dari HoIA, para senior leader IA dan rekan-rekan lainnya.  Saat pelepasan, gelak tawa canda dan do’a meluncur dari pelbagai simpatisan dan peserta sepeda ria ini.  Kata demi kata, canda demi canda, dan tawa demi tawa menghangatkan suasana ini … kehangatan menjadi-jadi saat HoIA mengeluarkan amplop angpau dari balik bajunya.  Nah … ini dia, lumayan bekal untuk di perjalanan.  Demikian pula sambil jalan menuju lift, VP ISMA tak lupa menyelipkan amplopnya lagi,  wah tambah lumayan lagi….
 
Hari pertama gowesan dimulai pukul 09.00 WIB saat sinar matahari sudah mulai menyengat.  Sebenarnya sinar ini diawali oleh hujan rintik sampai besar sejak kedatangan rombongan di Wonosari. Sambil bencanda sebagian peserta bersungut-sungut, semoga hujan terus sampai tengah hari biar punya alasan untuk sarungan sambil membayar ngantuk yang belum tuntas dibayar di bis.  Namun perasaan ini agak surut manakala tuan rumah ternyata sudah menyajikan sarapan pagi yang komplit nan lengkap, maka pukul 09.00 itulah masing-masing peserta beringsut meneruskan tugas gowesan yang mulai harus ditempuh walau panas-panas …malu (kali) sama bejibunnya makanan yang telah tersedia, soalnya kalau tak ikut bisa jadi tertuduh jadi pemakan yang masih tertinggal … 
 
Di perjalanan terbuktikan, nafas-nafas goweser mulai terengah-engah, begitu pun dengkul-dengkulnya karena harus menggowes di tengah sorotan sinar matahari panas, di jalanan yang naik turun, ada belok berbelok juga.  Perasaan memang terlihat jalanan lebih banyak naiknya dari pada datarnya apalagi turunannya walau sebelumnya sudah diyakinkan oleh tuan rumah, bahwa perjalanan itu datar adanya … wah wah wah … Saat rombongan berhenti untuk mengambil nafas, tiba-tiba seorang peserta yang di belakang datang melenggang menembus kerumunan rombongan tanpa tersengal-sengal, apalagi kelelahan, dengan lantang berseru ayo ….ternyata dia sudah naik motor. Oh, rupanya tuan rumah sudah antisipasi dengan menyiapkan pasukan penyapu ….sayangnya cuma satu motor, coba kalau banyak, semuanya ‘siapa takut’ …Di tempat tujuan, rombongan disambut sepenuh kehangatan dan keikhlasan … makanan dan minuman begitu berbagai-bagai sampai-sampai para peserta kebingunan menikmatinya.  Terima kasih, sekali lagi terima kasih yang bisa disampaikan semoga Allah Ta’aala membalas kebaikan semuanya. 
 
Pada perjalanan pulang kembali ke tempat semula, ujian perjalanan bertambah, yakni hujan turun deras.  Hebatnya … tak seorang pun dari para peserta yang mau berteduh, semuanya melanjutkan perjalanan bergowes ria menerjang hujan, mengayuhkan kaki di jalanan yang naik maupun datar dan turun.  Anehnya lagi – saat perjalanan pulang melalaui jalan yang sama – yang terlihat jalanan itu selalu banyak naiknya daripada datar apalgi turun, padahal saat pergi pun begitu.  Mestinya terjadi hal sebaliknya, saat pulang harusnya banyak turunnya , ternyata perasaanlah yang membuat jalan ini selalu naik … rupanya….
 
Esoknya adalah perjalan puncak, karena jarak tempuh lebih jauh, kondisi jalan lebih menantang dan tenaga sudah mulai banyak terkuras.  Saat pukul 03.30, para peserta sudah bangun, ternyata sarapan pun sudah tersedia sebelum shalat subuh… Duh … telatennya tuan rumah, terima kasih kami sampaikan.  Namun di luar terdengar suara hujan deras … sangat deras, wah bisa-bisa tak jadi kita ke Pantai Baron nih.  Namun saat jam menunjukkan pukul 05.45 hujan telah reda, para peserta siap-siap mau melakukan perjalanan ‘suci’.  Di luar dugaan, di garis start sudah berjaga-jaga tiga orang polisi, rupanya mereka sengaja disewa untuk mengawal rombongan menuju Pantai. 
 
Perjalanan dimulai dengan diiringi hujan rintik, makin jauh perjalanan, hujan makin besar … terus membesar … bahkan deras… oh oh oh.  Tapi sekali lagi tak satu pun peserta gowes ria ini yang menyurutkan gowesannya, mereka terus menggenjot pedal sepeda … terjangan hujan tak dihiraukan.  Kondisi jalan jauh lebih menantang daripada perajalanan kemarin, lebih banyak naiknya (seperti bisanya), ada datar dan turunan, tapi selalu perasaan berkata tanjakan lebih panjang jarak tempuhnya dari pada turunan … ah itu biasa … dasar perasaan, mungkin karena hujan juga. 
 
Selain memperoleh pengawalan Polisi selama perjalanan ke Pantai Baron, ternyata ada dua pengawal ‘swasta’ lain yang selalu menguntit rombongan. Yang satu adalah Pak Aji dengan mobil Yarisnya selalu menguntit peserta paling akhir terima kasih pak … yang kedua adalah putra Pak Edi Subiarto dengan motornya.  Soal motor ini ada satu kekagetan rombongan dibuatnya, yakni di tengah perjalanan tiba-tiba motor ini mendahului rombongan gowes ini, namun di belakangnya ada yang dibonceng… tak tanggung-tanggung yang dibonceng itu adalah orang dan sepedanya dipanggul ….Ooooh rupanya telah terjadi persoalan, hanya tak tahu persoalan itu pada sepeda atau orangnya …. yang bisa menjawab ya yang manggul sepeda itu …
 
Apa pun, alhamdulillah perjalanan ini lancar, bahkan perlu dikatakan sangat sukses.  Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu acara muhibbah gowes ini……     
 

Agus Ibrahim

welcoming mat of host, delicious foods, nice home, fun riding, beautiful scenes,  good joking…….ect…until the end….everybody happy……let’s plan another…

Edi Subiarto

Terimakasih P Tjatur & P Hary yang memberikan tambahan bekal baik materiil maupun moril. P Nuhin yg menunggui kami sampai berangkat dan P Purwoto yg memompa semangat dan rekan2 AVP serta rekan2 IA semuanya, sehingga kegiatan tour D’Wonosarinya sukses.

Kepada Mas Pardi dan kelurga besarnya, kami sangat berterimakasih yg telah menyediakan tempat penginepan sekaligus konsumsi bak air mengalir dan berlimpah. Kami juga mohon maaf apabila selama kami berada di Wonosari n Karangmojo kurang berkenan ataupun bersikap tidak menyenangkan.

Mas Adji, terimakasih, dukunganmu memberikan kesan tersendiri bagi kami shg kami bisa sampai ke Baron dengan lengkap.

Rekan2 I@cc terimakasih kekompakan dan solidaritasnya sehingga bersama, kita bisa menikmati bersepeda dengan tim yang solid. Jaga kekompakan ini untuk memacu prestasi dalam berkarya.

Hidup I@cc : Ride for Fun and Health.

Salam
ES

Supardi

Pak Edy, alhamdulillah, saya dan keluarga yang ada adalah senang senang dan senang……
 
 
Terima kasih.