Archive for the Otomotif Category

Bakti Sosial Telkom Motorcycle Community, Legok Jawa-Ciamis 29-31 Maret 2013

Posted in Otomotif, Pariwisata with tags , , , , , on April 23, 2013 by Slamet Sutrisno

Bakti sosial kali ini tergolong istimewa. Bagaimana tidak? Para peserta boleh pilih, mau pakai mobil atau pakai motor. Selain personil penyapu ranjau yang pakai motor juga disiapkan driver sebagai penyapu ranjau yang menggunakan mobilpick-up. Perjalanan yang ditempuh sangat bervariasi. Aspal licin, jalan tanah berlumpur, tanah berbatu……lengkap. Kalau dilihat destinasinya, tepatlah kalau dikatakan sebagai wisata pantai. DSC01527
Pantai Batu Karas sore hari
DSC01534 Pantai Madasari. Jangan coba-coba mandi di pantai ini dik, kalau tidak ingin pulang tinggal KTP.DSC01518
Keluarga anggota TMCC mencoba mengangkat ikan tangkapan nelayan yang melaut pagi ini. Wuaaaahhhh ternyata berat juga ya???DSC01490DSC01491Nelayan menunggu saat yang tepat untuk melaut. Tidak mudah bagi nelayan di pantai selatan untuk melaut. Berkali-kali mereka mendorong perahu ketengah laut, mereka dihantam ombak dan kembali ke tepian sebelum sempat menghidupkan motor tempelnya.
DSC01492 Matahari terbit di pagi hari yang indah
DSC01493
DSC01494
DSC01496
DSC01501
Usiamu ibarat matahari terbit, tingginya baru sepenggalah dan panasnya belum seberapa. Sebentar lagi akan meninggi dan menerangi dunia.
DSC01510Persiapan pasar murah untuk warga.

Perpisahan dengan sahabat karib

Posted in Otomotif with tags , , , on November 19, 2011 by Slamet Sutrisno

VW saya yang satu ini penampilannya kalem. Warnanya steven beige. Ada sebutan lainnya yaitu ligh ivory. Padahl kalau ngeliat contoh warna cat, antara steven beige dan light ivory terlihat adanya perbedaan. Putih kecoklatan, begitulah. Yang satu ini dibilang
kerasan tinggal dengan saya. Tercatat sejak tahun 1995, ketika saya masih berdinas di kota Medan, Sumatra Utara.
Ketika pindah ke Bandung tahun 1996, saya membawanya dengan melalui perjalanan darat, selama dua hari tiga malan, tentunya
termasuk menyeberang dengan ferry dari Bakauheni ke Merak. Mesin standardnya yang hanya 1300 CC termasuk
tangguh, sekalipundi BPKB maupun STNK tertulis 1500. Mungkin salah identifikasi dari sononya. Padahal nomor
mesinnya masih original. Saya restorasi untuk yang pertama tahun 1999 dan yang kedua kalinya tahun 2007/2008. Teman seperjalanannya dari Medan, vw safari hitam 1976 kini tinggal kenangan, karena sudah dilego.

BPKB nya dikeluarkan oleh Kepolisian Tanah Karo Sumatra Utara atas nama Gereja Batak Karo-Zuster Elsberg Zoller-Brastagi. Sedangkan saya adalah pemilik ketiga. Saya balik nama tahun 1996 ketika saya masih tinggal di Medan, Tahun 1996 saya pindah ke Bandung, tahun1998 saya mutasikan ke Kodya Bandung. Tahun 1999 saya mutasikan ke Kabupaten Bandung mengikuti saya pindah rumah. Tahun itu juga berganti warnalah sang kodok dari kombinasi silver-merah mirabella ke ligh ivory. Ini juga karena perpindahan gaya hidup dari hura-hura menjadi lebih santun. Hheee…heee…

Meski kurang bertenaga, tapi mesin 1300 memang sangat irit. Kalau saya bawa dari Bandung ke Semarang, tercatat
antara 13 sampai dengan 14 km/liter. Meski akselerasinya kurang, namun top speednya masih terbilang lumayan, masih bisa keluar 120 km/jam. Takut bablas tidak bisa berhenti?? Jangan khawatir, karena sudah dilengkapi dengan rem cakram depan dan booster untuk vw.

Ketika saya beli si kodok pakai velg racing jepang. Karena ukuran PCD antara velg Jepang dengan tromol Eropa berbeda, maka dipasanglah spicer. Pengerjaan lubang spicer yang tidak presisi ini banyakmenimbulkan masalah. Kalau diajak jalan pelan di aspal yang halus dan rata, mobil malah terasa seperti diayun-ayun bak naik kapal Tampomas. Kalau dipakai ngebut mobil terasa bergetar. Ball joint dan shock absorber sangat boros, harus sering ganti karena jebol. Maka saya penuhi anjuran mekanik saya untuk kembali ke velg dan ban standard, barulah permasalahan teratasi. Masalah lain timbul. Saya tidak menyukai penampilan velg dan ban standard, terlalu culun. Perburuan velg racing untuk vwpun di mulai.

Akhirnya kutemukan juga velg yang sesuai. Dipadu dengan ban continental gres, sangat serasi.
Setelah selesai restorasi, si kodok hanya dipakai sekali seminggu. Hingga suatu saat seorang teman menanyakan, apakah mau dijual. Dia bilang bahwa temennya yang di Surabaya sedang cari vw kodok. Saya bilang, mau dijual asal harga sesuai. Ternyata hanya dengan mengirim gambar via e-mail kesepakatanpun terjadi.

Selamat jalan sahabat. Kamu telah menemaniku selama 13 atau 14 tahun lamanya. Hanya karena keterlepasan omongan, kini kita harus berpisah. Kupajang foto cantikmu di web ini, sebagi kenangan yang abadi.

Tua Tua keladi

Posted in Otomotif with tags , , , on April 18, 2011 by Slamet Sutrisno

Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi.

Sebutan yang layak diberikan pada empat orang kakek umur 50-an yang tiba-tiba bersemangat untuk menjajal trek off-road Pasir Impun-Maribaya via Cikawari. Kawasan wilayah pegunungan Manglayang Bandung Utara ini adalah rute off -road yang biasa dilewati oleh teman-teman yang doyan ngetrail kalau melakukan fun offr-road.

Namun rute yang dalam keadaan kering terbilang ringan ini, bila habis terguyur hujan bisa jadi perkara besar untuk para pemula, apalagi aki-aki. Itulah yang terjadi hari Sabtu , tanggal 16 April 2011 yang lalu.

Berawal dari saling kirim SMS, maka acara itupun terselenggara.  Tanpa persiapan matang, langsung tancap gas.

Tanjakan yang terjal dan licin langsung menguji kemampuan dan nyali. He….he…., naik motor saja keringat seperti diperas.

Inilah beberapa gambar yang bisa dinikmati………

Meyakinkan…………

Dengan kostum lengkapnya, teman yang satu ini memang nampak garang.

Selayaknya memang para pecinta kegiatan ini mengenakan peralatan keselamatan yang sempurna.

Settingan gir depan belakang yang kurang pas untuk medan off-road cukup menyulitkan dalam pengendalian. Karenanya diputuskan untuk mengubah tujuan perjalanan yang tadinya ke Maribaya dialihkan ke Oray Tapa.

Sejenak beristirahat sambil mengatur nafas yang kembang kempis, sebelum melanjutkan perjalanan ke Oray Tapa. Umur kepala 5 dan fisik yang kurang terlatih, ternyata cepat membuat stamina merosot….he….he….

Setelah sejenak beristirahat melepas lelah di Oray Tapa, diusulkan untuk segera turun gunung mencari konsumsi yang layak untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Setelah mengisi perut di warung Sate Solo, kami mampir di salah satu bengkel di Jl. pesantren, Sukamiskin untuk melihat BMW R-50 milik pak Imam yang sedang di bangun. Sayangnya event di warung sate dan di bengkel kelupaan diabadikan.

Setelah itu kami pulang ke rumah masing-masing dengan janji akan bertemu lagi 2 minggu mendatang.

BUSI KUALITAS RENDAH?

Posted in Otomotif with tags , , , on January 7, 2011 by Slamet Sutrisno

 Siapa yang tidak ingin performansi motor tunggangannya meningkat. Berbagai upaya dilakukan, salah satunya adalah dengan mengganti businya dengan yang berperforma tinggi. Demikian juga dengan saya, begitu ditawari busi berlabel ”racing” langsung tergelitik niatan untuk mencobanya. ”Apa salahnya mencoba”, begitu kata hati saya. Toh harganya masih terjangkau. Tapi inilah ternyata awal kesalahan yang saya lakukan. Busi berlabel racing merk Fukuyama-IR-B7EM pun saya pasang di Suzuki TS-125 lansiran tahun 2003. Apakah ada perubahan yang signifikan pada performa kendaraan? Karena pengujian hanya menggunakan perasaan, ya tidak bisa mengambil kesimpulan. Singkat kata, ya biasa-biasa saja, begitulah. Sejak penggantian busi, motor tidak pernah saya pergunakan di medan ekstrem, melainkan hanya saya pakai di jalan raya berjarak 10 km dari rumah ke kantor satu atau dua kali seminggu. Tanggal 5 Januari 2011 seperti biasa motor saya pakai berangkat ke kantor. Sepanjang perjalanan saya merasa ada yang kurang dengan tenaga motor saya. Ketika istirahat siang saya coba untuk periksa di bengkel motor trail dibilangan Jl. Suci Bandung sekaligus mengganti seal magnet yang bocor. Ketika busi di lepas dan diperiksa, terlihat pembakaran normal, ketika dites percikan apinyapun bagus, sehigga busi dipasang kembali. Ketika dikencangkan busi itu patah seperti terlihat di gambar. Padahal saya perhatikan tidak ada pemaksaan, baik ketika membuka maupun memasang kembali busi tersebut. Mekanik saya komentar, bahwa seumur umur baru kali ini ada busi patah. Yang menjadi pertanyaan saya, palsu atau memang berkualitas rendah? Karena patah maka busi tidak bisa dilepas. Terpaksa silinder cop dibuka. Patahan busi dilas dengan baud, sehingga bisa dibuka dengan kunci pas. Wah…. cari kerjaan.

VW Safari 1978

Posted in Otomotif with tags , , on September 30, 2010 by Slamet Sutrisno

Safari Orange 1978Mobil camat, sebutan yang legendaris. Mobil dinas pak Camat era 70-an ini, bagiku sudah bukan barang baru lagi. Yang akan saya ceriterakan ini adalah vw safariku yang ketiga kalinya. Saya kenal vw safari sejak masih berdinas di kota Medan, sekitar tahun 95-an. Bahkan ketika kami sekeluarga harus hijrah ke Bandung tahun 1996 mobil camat ini kubawa serta. Bahkan, konvoi dengan temanku yang asli Medan (Jawa Medan), Mas Imam, kukendarai safari 1976 yang dipersiapkan di bengkel Mas Hardi, Madio Santoso Medan itu seorang diri menuju Bumi Priangan, sementara mas Imam membejek vw kodokku 1972. Ketika mendapat kehormatan dari dinas untuk sekolah di UI Salemba tahun 1997 sampai dengan 1999, dengan berat kulepas safari hitam 1976 itu untuk nomboki biaya rumah tangga.

Lampu rem originalTahun 2002 kuperoleh lagi safari 1976 dari seorang teman di daerah Antapani Bandung. Tapi itupun tidak bertahan lama, karena ada beberapa perniknya yang sangat susah untuk dilengkapi, hingga mengendorkan semangatku untuk membangunnya. Tapi belakangan, ternyata setelah ditangani dengan serius oleh teman sehobby, berhasil juga menyabet gelar juara di beberapa event di Jakarta.

Yang ketiga, inilah yang akan kuceriterakan agak panjang. Berawal dari kerinduan untuk makan angin diatas cabriolet yang harganya terjangkau, terus kutekuni iklan di harian umum kota Bandung yang terkenal, Pikiran Rakyat. Setiap iklan yang muncul langsung diuber. Kekecewaan demi kekecewaan harus ditelan. Baik karena harga yang tak terjangkau, sampai kondisi fisik si safari yang kelewat amburadul.

Lampu depanSuatu saat ada informasi dari Kang Soma, mekanik andalan saya, bahwa ada safari tahun 1978 yang akan dijual. Kondisi terbilang lumayan , katanya. Setelah berjanji dengan si pemilik, kami berdua datang untuk sekedar test drive. Seperti biasa selesai test drive, basa-basi nanya tentang harga. Waktu itu si empunya buka harga 15 jeti. Alamaaak, gimana nih. Sebenarnya hasil test drive cukup mengecewakan. Roda gleyar-gleyor, diinjak rem masih tetep ngeloyor. Pernik-pernik penting banyak yang raib. Kursi untuk driver sudah dinaikkan, hingga postur saya yang hanya 168 cm ini jadi tidak cocok, karena paha mentok dengan lingkar kemudi. Hanya sekedar memenuhi sopan-santun berbisnis, saya mengajukan penawaran 8,5 jeti.

Right handlingSeperti yang anda bayangkan, sang pemilik langsung bermuka asem. Tapi apa boleh buat, temen saya saja hanya berani sampai 6,5 jeti. Akhirnya kami pamit dengan perasaan yang kurang nyaman. Tapi ternyata persoalan tidak berhenti. Kerinduan saya pada mobil camat tidak segera padam. Antara keinginan untuk segera membawa pulang dan logika atas perhitungan biaya yang mesti dikeluarkan terus berselisih. Dua minggu saya menahan diri, sambil terus mencari informasi tambahan.

Akhirnya, ponsel bututku berdering … Ternyata dari Kang Soma. Bos…., begitu dia biasa memanggil saya. Mobilnya dikasih, terus gimana??? tanyanya. Ya tolong diambil, jawab saya. Nanti duitnya tak transfer ke Akang. Siiip, jawabnya. Kang, mobil langsung diservis, biar enakan dipakai, kata saya. Siap, jawabnya. Sejak saat itu, saya sering keliling komplek dengan kap terbuka dengan anak saya yang baru berumur kurang dari setahun, dengan alasan momong.

Tiba suatu waktu, keinginan untuk merestorasi mobil camat itu muncul. Berdasarkan pengalaman membangun mobil di bengkel yang kurang memuaskan, maka kuputuskan untuk merestorasi di rumah. Tawar menawar dengan tukang las yang biasa ngerjakan mobil vw, disepakati harga jasa las sebesar 3,5 juta perak, bahan ditanggung pemilik mobil. Pembayaran jasa disepakati berdasarkan kemajuan proyek. Tapi kenyataan saat pelaksanaan tidak seperti kesepakatan semula. Ketika proyek belum nyampai 50%, jasa yang di kasbonkan sudah mencapai 2 juta. Kemudian, wan prestasipun terjadi. Dengan alasan sakit dan sebagainya pelaksana pekerjaan mengundurkan diri, dan seperti biasa duit yang sudah keluar susah ditarik. Akhirnya proyek mangkrak selama 6 bulan. Nunggu antrean agar bisa menggandeng tukang las yang qualified memang menjemukan. Salah seorang jago las dikalangan vw mania kota Bandung adalah Kang Fajar. Tapi yang satu ini nggak pernah nganggur. Yang ngantri untuk memanfaatkan ketrampilannya harus booking terlebih dahulu. Akhirnya Maret 2008 proyek berlanjut. Harga kontrak jasa pekerjaan las tahap kedua ini sama dengan yang pertama, yaitu 3,5 juta. Lho kok bisa. Menurut Kang Fajar, hasil pengelasan tahap pertama banyak yang keluar dari pakem, sehingga harus dibongkar ulang. Wah, saya nyerah. Pekerjaan las tahap kedua ini selesai dalam 5 bulan. Lama? Saya sebagai pemilik proyek menganggap waktu segitu cukup singkat. Karena pekerjaan ini dilakukan dengan sistem angkat body. Seluruh body diurai habis dan diperiksa senti demi senti, sampai tidak ada yang terlewat. Baut-baut diganti baru, sayang tidak dapat diperoleh baut body ori. Proses pengecatan sudah dimulai sebelum pekerjaan las selesai 100%, karena kenyataannya tukang las dan tukang cat harus berkolaborasi. Kontrak jasa pengecatan senilai 4 juta, bahan ditanggung pemilik proyek. Bahan bahan pekerjaan las dan pekerjaan pengecatan, menurut catatan terakhir senilai kurang lebih 8 juta perak. Mau tahu bahan las itu apa saja?? Diantaranya adalah plat besi 1,2 milli, kawat las biasa, kawat las tembaga, gas acitellyn(bener nggak ini nulisnya), besi siku untuk menahan body ketika dilas agar tidak berubah bentuk.

Sedangkan bahan pekerjaan pengecatan adalah amplas berbagai nomor, dempul, plamuur, epoxy, cairan pengupas cat, cat dasar, thinner, cat, hardener, coating, semacam kain flannel, berbagai macam kit mulai dari hard kit sampai soft kit, dan wak serta sewa kompressor. Untuk cat saya tidak memilih yang mahal, tapi cukup yang menengah merk dana gloss, dengan pilihan warna sosro orange, mendekati warna asli safari pemilu tahun 1977. Komposisi bahan-bahan cat selanjutnya menjadi urusan Kang Asep yang asli Garut itu. Orang yang kalem dan sering dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang baru mengenalnya itu punya kesabaran yang luar biasa dalam mengikuti pakem bentuk asli safari garapannya. Pekerjaan pengecatan selesai enam bulan kemudian. Warna sosro orange yang diguyurkan keseluruh body hasilnya cukup memuaskan.

Kemudian pekerjaan berikutnya sudah menunggu. Pembenahan perkabelan, kaki-kaki, rem dan fit-up mesin menjadi urusan Kang Soma. Demikian pula urusan melengkapi pernik-pernik yang kurang, seperti sepasang sun visor, saringan udara ori dan masih banyak lagi. Urusan yang ditangani Kang Soma ini menelan dana tidak kurang dari 10 juta rupiah. Mobil yang sudah cakep, rasanya kurang pas kalau joknya butut. Jokpun akhirnya digarag oleh Mas Atok dengan biaya 1,5 juta.

Terakhir, si orange digelandang ke Yaya Canvas di bilangan Buah Batu untuk mengganti canvasnya yang sudah butut. Canvas warna cream sangat serasi dengan warna body yang orange cerah. Canvas yang saya pilih rupanya dari bahan yang agak mahal, sehingga harus merogoh kocek sebanyak 4,5 juta. Terakhir keempat rodanyapun diganti baru dengan dana 3 juta. Sehingga proyek yang berjalan hampir dua tahun ini total menghabiskan dana sekitar 35 juta repis.

Proyek dinyatakan selesai bulan Februari 2009. Tapi apa yang terjadi sekarang?? Mobil camat itu lebih banyak berselimut car cover bikinan Yaya Canvas seharga 500 ribu, dibanding dengan jalan-jalan. Terhitung baru dua kali jalan-jalan. Sekali kumpul bareng dengan Pecinta Mobil Eropa di Kota Baru Parahiyangan dan hajatan rekan-rekan VCB di Sabuga.

Banyak ajakan dari teman-teman sesama penggemar safari yang dengan terpaksa tidak bisa saya penuhi, karena kesibukan tugas luar kota yang harus saya jalankan.