Archive for the Otobio Category

Angon Kebo

Posted in Otobio with tags , on January 2, 2014 by Slamet Sutrisno

Dari SD sampai  di Akademi hidupku tidak pernah terpisah jauh dari binatang ternak, baik yang kaki 2 maupun kaki 4. Salah satu kegiatan rutin pemilik ternak berkaki 4 adalah menggembala atau angon. Bagiku kegiatan angon yang paling menyenangkan adalah angon kebo atau menggembala kerbau.

Tidak lain karena ketika digembalakan, kerbau biasanya dengan senang hati bila kita menumpang diatas punggungnya. Kalau penggembala yang tulen, biasanya sembari nangkring di punggung kerbau dia akan membunyikan seruling. Kalau aku memang seumur-umur belum pernah bisa membunyikan seruling.

Menggembala kerbau biasanya dilakukan setelah waktu ashar hingga menjelang maghrib. Bahkan kalau sedang musim kemarau, kerbau digembalakan lebih awal. Mengapa harus digembalakan? Mencarikan rumput untuk beberapa ekor sapi atau kerbau bukanlah pekerjaan yang ringan. Makanya kecuali di carikan rumput atau jerami sapi dan kerbau juga di gembalakan.

Menggembala kerbau yang paling cocok adalah disawah yang habis dipanen beberapa minggu sebelumnya. Karena bekas padi yang sudah di panen biasanya sudah tumbuh padi baru dari bonggol padi yang tersisa, yang dalam bahasa Jawa di sebut singgang. Kerbau sangat menyukainya, karena ibaratnya dia dapat makanan padi yang masih muda.

Kampung kami berbukit-bukit, maka tanah pertanian yang adapun tidak rata, baik tanah kebun maupun tanah persawahannya. Tanah-tanah pertanian diberi terasering, selain untuk mengatur aliran air, juga untuk menahan tanah dari bahaya erosi.

Sore itu aku terkantuk-kantuk diatas punggung kerbau yang makan dengan tenangnya di persawahan. Matahari sudah jauh condong ke barat dan sudah mulai menampakkan warna merahnya. Itu adalah waktu yang paling disenangi anak-anak gembala. Matahari sudah tidak galak memancarkan panasnya. Angin sore kadang membuat kita mengantuk. Anak-anak kampung seperti kami tidak pernah diajarkan tidur siang.

Dari posisi duduk aku merubah posisi jadi tengkurap di punggung kerbau. Bau badan kerbau yang kurang sedap tidak begitu kuhiraukan. Tiba-tiba aku terbangun. Dengan kesadaran penuh kupegang tanah becek tempatku telungkup. Ya, aku memang sudah tidak berada di punggung kerbau. Aku sudah berada disawah yang habis di panen. Aku melihat sang kerbau masih makan dengan tenangnya. Tapi rupanya kami sudah tidak berada di petak sawah bagian atas, kami sudah turun satu petak lebih rendah. Ah, saya tahu. Si kerbau itu sudah turun dari petak sawah sebelah atas ke petak di bawahnya. Jadi aku terjatuh dari punggungnya ketika dia melompati pematang sawah ke petak dibawahnya.

Advertisements

Ngguyang Sapi

Posted in Otobio, Pertanian, Peternakan with tags , , on December 23, 2013 by Slamet Sutrisno

Ngguyang dalam bahasa Jawa, bahasa Indonesianya adalah memandikan. Namun istilah ngguyang dalam kontek bahasa Jawa adalah memandikan binatang-binatang ternak berkaki 4 yang besar, misalnya ngguyang sapi, ngguyang kebo atau ngguyang jaran.

Binatang ternak yang sudah biasa di guyang nampaknya sangat menikmati acara ini. Begitu sampai di sungai, setelah minum air sungai biasanya akan mengikuti aba –aba yang diperintahkan oleh Cah Angon. Cah angon adalah seseorang yang ngurusi ternak, baik dia sebagai pemilik maupun hanya sebagai orang upahan. Kalau di perintah rum….rummm (kependekan dari njerum… yang artinya: tiduran atau menggeletak) maka sapi atau kerbau akan segera melakukannya. Biasanya kita segera menciprati ternak itu dengan air, kemudian menggosok-gosoknya dengan segepok ilalang agar kotoran yang melekat di badannya hilang. Kemudian kalau kita bilang seh….sehhhh (kependekan dari nyiseh atau membalikkan badan), maka ternak itupun akan membalikkan badan dengan senang hati.

Gampang??
Bisa gampang, bisa jadi malapetaka.
Suatu saat kampung kami mendapat sapi bantuan Presiden. Sapi itu didatangkan dari Australia, katagori sapi perah. Mungkin waktu itu negeri kita sedang mengejar swasembada susu. Pastinya sapi-sapi ini di negeri aslinya tidak pernah dimandikan secara manual, dielus-elus dan digosok-gosok. Atau mungkin juga belum pernah diajak mandi di sungai. Waktu diajak ke sungai masih tenang-tenang saja, bahkan seperti sapi-sapi yang lain diapun minum sepuasnya. Tapi waktu disuruh berbaring, tentunya pakai bahasa Jawa, dia nggak ngerti. Ya sudah nggak apa-apa biar mandi sambil berdiri. Maka tali pengikatnyapun saya injak pakai kaki dan dengan menggunakan kaleng butut yang kutemukan, maka ku siramkan air sungai ke tubuhnya. Mungkin karena tidak menduga akan diperlakukan seperti itu, sang sapipun terkejut dan menjadi beringas. Diapun melompat dan berlari sekencang-kencangnya keluar dari sungai. Karena kaki masih bertahan untuk menginjak tali pengikat, maka akupun terpelanting jatuh ke sungai yang berbatu-batu.