Archive for November, 2013

Jakarta Oh Jakarta – bagian 1

Posted in Uncategorized with tags on November 29, 2013 by Slamet Sutrisno

Berita bahwa saya dipindah tugaskan ke Jakarta saya terima secara tidak sengaja. Lho kok bisa. Di perusahaan tempatku bekerja, kalau ada pegawai pindah, selain mendapat SK pindah, akan dibuatkan surat perintah jalan, sekaligus dikasih uang saku untuk melaksanakan kepindahan tersebut. Tentunya ada bagian tersendiri yang mengurusi hal tersebut. Seperti layaknya perusahaan besar, segala komunikasi internal dilakukan dengan menggunakan media elektronik seperti e-mail dan lain-lain.
monash
Demikian pula bagian yang membuat surat perintah jalan tersebut. Untuk mengetahui kapan tepatnya saya akan berangkat, maka bagian ini menanyakannya melalui e-mail. Jadi saya sudah tahu terlebih dahulu bahwa saya akan dipindahkan ke Jakarta sebelum manajemen menyampaikan SK pindah secara resmi.

Aduh, Jakarta. Kota yang selama puluhan tahun saya berusaha menghindarimu, akhirnya engkau mengundangku juga untuk datang.

Bayanganku yang muram tentang Jakarta terus berkelebat dalam otak. Jadi anak, eh …kakek kost (karena umurku sudah 52 tahun) dan makan di warung tiap hari. Tidak jadi soal, kataku dalam hati. Toh masa tugasku tinggal beberapa saat lagi.

Karena ada beberapa orang teman yang sudah di Jakarta dengan lokasi yang sama, maka saya kontak untuk di pesenkan kamar kost. Yang pake AC ya, pesanku wanti-wanti. Beres, jawab mitraku di seberang sana. Tanggal 25 September 2013 pagi hari saya berangkat ke Jakarta dengan kereta api. Setelah sampai dan melapor di kantor Jakarta, langsung ku hubungi temen untuk segera melihat tempat kost. Memang ada beberapa kamar yang masih kosong, tapi hanya pakai kipas angin. Tidak apa…langsung masuk. Tapi apa yang saya duga memang terjadi, pagi harinya badan pegal-pegal karena semalaman ditiup pakai kipas angin.

Beruntung tiga hari kemudian ada teman yang pindah kost, karena memang lokasi kerja juga pindah, meskipun masih satu kota. Tapi kamar yang ditinggalkannya termasuk yang paling mahal, selain pake AC juga ukurannya paling besar. Hitung-hitung biaya kontraknya setahun sama dengan harga kontrak satu rumah selama setahun di Bandung. Akhirnya sayapun jadi penghuni kamar ber AC yang hanya dingin menjelang dini hari itu, maklum AC nya kayaknya sudah uzur, suaranya aja yang kenceng.

Kalau di kalkulasi lagi, baik pake kalkulator beras maupun kalkulator science yang sering dipakai anak kuliah teknik, ternyata kenaikan gajiku karena pindah ke Jakarta hanya habis untuk kost, transportasi dan lain-lain. Ya sudahlah, apa boleh buat. Jakarta oh Jakarta, mengapa hargamu demikian mahal.

Advertisements

Memanaskan Mesin Mobil

Posted in Kesehatan with tags on November 20, 2013 by Slamet Sutrisno

Bagi sebagian orang, memanaskan mesin mobil di pagi hari barangkali menjadi bagian dari kegiatannya sehari-hari. Memang ada semacam sugesti tersendiri, bahwa mesin mobil yang telah dipanaskan beberapa saat lamanya, ketika dipakai untuk jalan terasa lebih nyaman.

Di kos-kosan saya di Jakarta, ada beberapa orang penghuninya yang membawa mobil. Kurang lebih ada delapan mobil yang parkir, baik yang berada di halaman, maupun di dalam garasi yang menyatu dengan ruang kerja pengurus kost, sekaligus berhadapan dengan kamar para penghuni.
DSC00591
Selama hampir dua bulan tinggal disini, saya perhatikan sebagian pemilik mobil punya kebiasaan memanaskan mesin mobilnya, tidak peduli parkirnya di halaman atau di dalam garasi. Setiap kali saya lewat pintu garasi yang sekaligus pintu akses keluar masuk kos kosan, kalau ada mobil yang menyala mesinnya saya menahan nafas sambil menutup hidung untuk menghindari masuknya sisa pembakaran yang terkonsentrasi di ruangan tersebut.

Selain itu, apa yang saya lakukan?
Paling banter memberitahu pada pengurus kos kosan, bahwa memanaskan mesin mobil dalam ruangan yang terbatas sangatlah besar bahayanya. Apakah hal ini disampaikan pada pemilik mobil? Hanya Tuhan yang tahu. Lalu mengapa saya tidak langsung saja memberitahu pemilik mobil. Wah entar saya di bilang….syirik lu. Wah bisa sakit hati.

Jadi, saya hanya menunggu mereka-mereka menyadari kekeliruan yang mereka lakukan. Tapi….kata lagu……menunggu itu menjemukaaaannn.