Archive for January, 2012

Sepedaan di Sapan, Minggu 22 Januari 2012

Posted in Olah Raga with tags , , on January 29, 2012 by Slamet Sutrisno

Acara sepedaan yang sudah dirancang seminggu sebelumnya ini boleh dibilang gagal dan juga boleh dibilang sukses.
Yang merasa tersiksa dengan rute ini pasti akan bilang gagal. Tapi banyak juga yang bilang sukses, sekalipun anggota banyak yang kocar-kacir karena tertinggal dan tidak tahu jalan. Dan inilah waktu sepedaan yang terbilang cukup panjang, yaitu kurang lebih lima jam. Belum lagi kalau dihitung waktu berangkat dan tiba kembali sampai rumah masing-masing, rata-rata enam sampai tujuh jam.

Janji untuk kumpul di pompa bensin Jl. Rumah Sakit-Ujung Berung jam 06:30 tidak dapat ditepati. Dengan berat hati jam 06:45 bendera start tetap dikibarkan. Saya yang tidak menguasai rute hanya mencoba mengikuti perjalanan ini dengan patuh.
Ditengah perjalanan, setelah beberapa kali perkeliruan yang menyebabkan sebagian peserta tercecer dan tersesat. Bahkan Pak Abu Nasor dan Pak Dadi yang sejak start sudah ketinggalan, sampai akhir perjalanan, tidak juga bisa bertemu dengan rombongan.

Saya ,Pak Imam, Pak Barkah, Pak Zul dan beberapa teman lagi sempat ketemu dengan penjual jagung rebus di kebun jagung pinggir sungai Citarum. Ketika kami sedang menikmati jagung rebus, datanglah rombongan pak Ian Sigit dan kawan-kawan, tapi di seberang sungai. Sehingga untuk berkumpul haru ke arah hulu untuk mencari jembatan penyeberangan. Kalau rombongan saya menyantap jagung untuk mengganjal perut yang mulai lapar, ternyata rombongan Pak Tri ketemu dengan penjual tempe goreng. Tapi apapun makanannya, kalau perut lapar, semuanya jadi enak.

Kira-kira satu setengah jam sebelum sampai ke Tenda Biru, saya dan Pak Hanafi dengan setia mengawal Pak Mitra yang beberapa kali mengalami tegang otot kaki. Sampai di Tenda Biru, terlihat rombongan sedang menyantap hidangan, bahkan sudah ada yang selesai.

Ada yang menarik beberapa obyek di sekitar warung Tenda Biru. Salah satunya adalah jembatan gantung. Saat saya melewatinya dengan percaya diri yang besar, saya hampir terpelanting menimpa pengendara sepeda motor. Ternyata jembatan gantung ini ketika dilalui bergoyang ke kiri dan ke kanan. Beruntung saya sempat menangkap tali pengaman yang terbuat dari baja.

Sedangkan yang kedua adalah pengrajin batu bata. Saya sempat memotret sepasang suami istri yang sedang mencetak batu bata. Kalau teman-teman mau mbangun rumah, batu bata made in Citarum ini satu bijinya 400 rupiah.

Kelar bersantap di Tenda Biru kami masih harus berjuang untuk sampai ke jalan raya, dimana mobil pendukung sudah menunggu. Melewati tanggul sungai berumput tinggi ternyata memerlukan keahlian tersendiri. Karena ternyata banyak anggota yang terjatuh karena mengikti jalur jalan setapak.

Ketemu dengan mobil logistik yang disediakan oleh Pak Barkah dan kawan-kawan, kami dibagikan kaos olah raga lengan panjang. Pas untuk menutup lengan kami yang pakai kaos lengan pendek yang sudah mulai gosong tersengat matahari. Beberapa teman memilih untuk memanfaatkan mobil logistik daripada melanjutkan perjalanan menuju rumah masing-masing yang memang masih cukup jauh jaraknya dari jalan Soekarno-Hatta.
Salam.

Advertisements

Sepedaan, Minggu 29 Januari 2012

Posted in Uncategorized with tags , on January 29, 2012 by Slamet Sutrisno

“Minggu pagi¬† jam 6 kumpul pusda’i route dago -cihampelas-cipaganti, sederhana, cihampelas-finish mang oyo hehe”, begitu bunyi sms yang saya terima.

Sepedaan hari ini sebenarnya tidak direncanakan. Hanya saja Sabtu siang, saya terima undangan dari Mas Barkah untuk sepedaan hari Minggu. Sempat saya forward pada teman-teman sehobby yang nomornya tercatat, namun hanya beberapa orang yang respon. Termasuk ustadz Lukman, pak ketua sepedaan juga berhalangan, karena ada jadwal ceramah.

Jam 05.30 saya sudah siap meluncur, tapi ternyata hujan yang tertahan sejak malam, akhirnya tumpah juga dari langit. Mas Barkah di Antapani yang saya kontak bilang bahwa di bawah sudah mulai reda. Jam 05.50 ketika gerimis belum berhenti saya mulai meluncur menuju titik temu di Pusda’i.
Wah, ternyata saya datang paling awal, baru kemudian disusul Pak Imam, Pak Tri, Pak Barkah, Pak Mitra dan Pak Zul. Ternyata Pak Arif, Pak Win dan beberapa teman sudah kumpul di RRI.

Bisik-bisik dengan pak Tri, demi “cost optimization” Bubur Mang Oyo sebaiknya diganti Bubur PMI. Pak Barkah yang punya gawepun setuju.

Setelah kumpul dan nyamper pak Faisal Syam sepeda kami gowes melewati bawah jembatan layang Surapati menuju arah ITB, dan terus melewati Babakan Siliwangi belok kiri ke arah Cihampelas. Sampai disini rehat sebentar sambil menunggu temen yang masih tertinggal. Perjalanan dilanjutkan dengan melaju di turunan Cihampelas, melewati setasiun utara, melewati viaduct, belakang Balai Kota, belok kanan,  sampai di perempatan Merdeka rehat lagi untuk menunggu yang tertinggal, sebelum akhirnya menuju bubur PMI.

Kami berpisah di PMI dan berjanji untuk mengulang perjalanan dengan rute yang berbeda. Salam gowes.