Archive for December, 2011

Konyol

Posted in Uncategorized with tags , , , , on December 11, 2011 by Slamet Sutrisno

Komandan ICFR (Internal Control for Finacial Reporting) kami boleh dibilang orang yang paling konyol di Unit kami, Internal Auditor. Kalau lagi nganggur kerjanya ngusili teman temannya.

Salah satu contoh, ketika kami sedang melaksanakan audit beberapa tahun lalu di daerah Bekasi.
Dia memang paling benci kalau ada temen yang ngrokok, terutama kalau ngrokok dalam kamar. Ada salah seorang dari kami yang punya kebiasaan, kapanpun waktunya, terbangun di malam hari sekalipun, langsung menyalakan rokoknya sampai kamar kayak kebakaran.
Suatu saat, lampu kamar sudah dimatikan. Penerangan kamar hanya mengandalkan sinar lampu yang masuk dari celah-celah gordyn jendela. Kami, beberapa orang yang tergabung satu kamar bersiap-siap untuk tidur. Temen yang perokok berat ini terlihat masih gelisah di pembaringannya.

Sejenak kemudian dia bangkit. Digapainya rokok dan korek api yang ada diatas meja. Demi menjaga agar temen-temennya tidak terganggu, tetap dibiarkannya penerangan kamar dalam keadaan remang-remang seperti itu. Terdeengar berulang-ulang dia berusaha menyalakan korek api dari kayu pohon pinus itu, tapi tidak berhasil. Kemudian dia keluar dari kamar. Wah, mungkin dia mau merokok diluar.

Sejenak kemudian terdengar suaranya mengumpat-umpat kalang kabut. ”Ada apa Kang?”tanya saya. ”Kurang ajar, ini pasti kerjaan si TB”. ”Kenapa sih?” tanya temen yang lain. ”Korek apinya sudah dinyalakan semua, pantesan nggak mau nyala”jawab yang diluar.
He..he..he… Temen-temen yang sudah ngantuk nggak jadi tidur, lampu kamarpun dinyalakan kembali.

Di bawah adalah tulisannya ketika sedang kesal menunggu progress report kegiatan audit ICFR yang nggak masuk-masuk.

Beda
 
Sambil menunggu laporan progres pelaksanaan pengujian ICFR yang sampai hari ini belum masuk seluruhnya, saya jadi ingat cerita tentang dua orang auditor yang  sedang menggembalakan sapi. Kedua auditor itu, sambil menunggui sapi-sapi mereka merumput, keduanya pun berbincang-bincang di bawah pohon.
 
Auditor 1 : Hm, kalau dilihat dari depan, sapi kita tidak ada bedanya yah?
Auditor 2 : Betul juga. Jangan-jangan nanti bisa tertukar.
Auditor 1 : Aku ada ide. Bagaimana kalau kau potong saja sebelah telinga sapimu? Jadi kita bisa bedakan.
Auditor 2 : Ide bagus.
 
Akhirnya mereka memotong sebelah telinga sapi milik Auditor 2.
 
Auditor 1: Wah… akhirnya… sapi kita tidak akan pernah tertukar.
Auditor 2: Benar. Tapi….. kalau dari belakang kok tetap sama yah?
Auditor 1: Benar juga. Jadi bagaimana?
Auditor 2: Begini, karena sapiku sudah dipotong telinganya, bagaimana kalau sekarang sapimu yang dipotong ekornya?
Auditor 1: Setuju !!
 
Dan mereka pun memotong ekor sapi milik Auditor 1.
 
Auditor 1: Nah, akhirnya sapi kita benar-benar tidak akan pernah tertukar.
Auditor 2: Iya. Eh, bagaimana kalau sekarang kita tes dulu. Tuh, ada anak SD lewat. Kalau anak SD saja bisa membedakan, apalagi orang dewasa kan ?
Auditor 1: Benar juga. Ayo kita panggil anak itu.
 
Auditor 1: Nak, bisa tidak kau membedakan kedua sapi itu?
Anak SD : Jelas saja bisa. Yang satu warnanya putih, yang satu warnanya coklat.
 
???????

Bagi mereka yang belum pernah bergaul rapat, akan menganggapnya sebagai humor yang segar. Tapi yang sudah terbiasa dengan kejahilannya, akan berkomentar “wah, ngejek nih….”

Salam buat rekan Tatang Basari dan
Dadi Abdurahman…………

Petruk Jadi Raja

Posted in Wayang Trondol with tags , , on December 9, 2011 by Slamet Sutrisno

Seseorang, yang derajadnya tidak lebih dari seorang pembantu, tiba-tiba menjadi penguasa yang wewenangnya sulit dicari bandingnya. Semuanya bisa terjadi, ketika orang tersebut oleh Sang Pemberi hidup sedang diberi peran untuk melakukan suatu misi.
Kira-kira seperti itulah yang terjadi pada tokoh kita ini.

Maka, ketika penguasa dadakan itu berhak memegang tongkat komando yang hanya boleh disandangnya sesaat itulah, hal-hal yang nyleneh kadang dilakukanya. Dari pilihan atas julukan untuk dirinya sendiri saja sudah terkesan semaunya. Prabu Belgeduwel Beh, Maharaja Thong Thong Sot dan Adipati Thok Kethitok Jenggleng.

Sang Raja sebenarnya adalah seorang abdi di kerajaan Madukara yang sedang dikasihi dewata, sehigga terkabulah semua yang dikehendakinya. Karena ajimat kerajaan Indraprasta atau Amarta yaitu Jamus Kalimasada berada dalam genggamannya.
Tentang sebab hingga bisa berada di tangan si Petruk Kantong Bolong, tidak lain adalah untuk menarik perhatian agar para pemilik yang sebenarnya datang untuk mendapatkannya kembali. Hal ini terjadi, karena setelah berhasil direbut dari musuh, para majikan Sang Petruk, telah lupa akan kewajibannya sebagai penguasa.

Dikisahkan, bahwa Raja Himahimantaka, Prabu Bumiloka berkeinginan memperluas wilayah jajahan. Tidak hanya para penguasa di seberang lautan. Namun para penguasa tanah Jawa : Kerajaan Wiratha, Pancala, Amarta, Mandura, Dwarawati semua akan ditundukkan di bawah kendali Himahimantaka. Prabu Bumiloka memiliki saudara perempuan bernama Dewi Mustakaweni, mereka berdua sama-sama memiliki kesaktian dan terkenal bisa berubah wujud sesuai keinginan. Keinginan Prabu Bumiloka untuk memperluas jajahan didukung oleh sang adik, Dewi Mustakaweni. Pujangga kerajaan Himahimantaka, Resi Kala Ndaru memberi masukan, bahwa Prabu Bumiloka akan dapat mewujudkan keinginannya, jika memiliki Jimat Kalimasada, pusaka prabu Yudhistira, jika tidak, maka keinginan itu tidak akan kesampaian.Dewi Mustakaweni memberikan kesanggupannya, kemudian berganti pakaian. Tiba-tiba wujudnya berubah, tak beda sedikitpun dengan satria Pringgodani yaitu Raden Harya Gathutkaca. Dengan demikian, sang kakak percaya, bahwa misinya akan berhasil.

Ketika itu Para Pendawa sedang berkumpul untuk membangun Astana Gandamadana, dan yang sedang berada di kerajaan hanyalah Dewi Drupadi ditemani Dewi Wara Srikandi, tak lama kemudian datanglah tamu Sang Gathutkaca gadungan, mengatakan kalau diutus untuk mengambil Jamus Kalimasada, karena pembangunan candi beberapa kali ambruk, harus dibentengi dengan pusaka kerajaan, demikianlah yang diucapkan oleh Gathutkaca palsu itu. Dewi Srikandhi sedang di dapur dan akan menghidangkan minuman, ketika Jamus Kalimasada telah diserahkan kepada penipu yang berganti rupa itu, yang tanpa pamit segera melarikan diri.. ketika Dewi Wara Srikandhi diberitahu hal tersebut, segera mengejar sang penjahat. Tak berapa lama kemudian sang penipu telah tersusul, ketika ditanya, jawaban yang diberikan tidak sesuai. Bagaimana bisa begitu? Sang Gathutkaca palsu tersebut tidak mengenal Srikandhi, maka terjadilah perkelahian.
Namun ternyata dalam perkelahian itu Dewi Srikandhi tidak dapat mengimbangi kridha sang Gathutkaca gadungan. Maka digunakannya senjata andalannya yang berupa panah. Terkena anak panah Putri Pancala, sang Gathutkaca palsu tidak dapat mempertahankan penyamarannya dan kembali kedalam wujud aslinya yaitu Dewi Mustakaweni. Perkelahianpun dilanjutkan, namun ternyata gantian Dewi Mustakaweni yang mengalami kesulitan , kemudian melarikan diri dengan terbang ke angkasa. Karena tidak dapat terbang ke angkasa, maka Dewi Srikandhi mengikutinya melalui darat.

Ketika perjalanannya sampai dipinggir hutan, bertemu dengan kesatria yang tampan dikawal keempat pengikutnya, yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Setelah saling bertanya, ternyata kesatria ini adalah Si Wajah Tampan Bambang Priyambada yang akan mengabdikan diri kepada orang tua kandungnya satria Madukara Raden Harjuna. Dewi Srikandi kemudian juga berterus terang, bahwa dirinya adalah istri Sang Harjuna, para panakawanpun ikut menjadi saksi. Pembaca harap maklum, bahwa Sang Harjuna atau Arjuna ini satria sakti dan tampan yang punya istri dimana-mana.
Namun demikian, saat ini Pandhawa sedang prihatin, karena pusaka Jamus Kalimasada telah hilang. Mendengar berita demikian, tanpa pamit Bambang Priyambada segera mengejar sang maling.

Dewi Srikandi berkata kepada Kyai Semar; Kakang Semar, lihatlah dengan saksama, perkataannya yang lemah lembut dan gerakannya yang trengginas tidak berbeda dengan ayahnya”.
Semarpun menjawab : “Sudah barang tentu. Tapi saya tidak tega melepasnya berjuang sendirian, ayo anak-anak segera disusul”.

Tak lama kemudian Dewi Mustakaweni telah tersusul oleh Bambang Priyambada, terjadilah silang sengketa dan dilanjutkan dengan perkelahian mengadu kesaktian, sama saktinya sama cerdik dan mumpuni berganti wujud. Merasa keteter, akhirnya Bambang Priyambada mengeluarkan senjata andalannya. Dewi Mustakaweni dihujani dengan anak panah, hingga seluruh busana terlepas dari tubuhnya, seketika menjatuhkan diri (MALU DONG… BUGIL), menyerah tanpa syarat. Pusaka Jamus Kalimasadapun diambil dan diserahkan kepada Petruk. Bambang Priyambada kemudian mengurus Dewi Mustakaweni dijadikan putri boyongan.

Tanpa disadari oleh siapapun, setelah Jamus kalimasada berada ditangan, Petruk makin menjauh dari tempat itu sambil berkata, “Si Bos Priyambada ini segalanya persis seperti Bos Janaka (Harjuna), baik ketampanan, ketangkasan maupun kesaktiannya. Hanya saja sangat mudah kecantol, kalau melihat cewek cakep dan masih gadis, sama seperti saya kalau melihat nasi pulut (ketan). Kalau aku memperhatikan Si Bos, hatiku malah tidak karu-karuan, jimat Kalimasada telah ditangan, wah pergi saja, mencari ketenaran.”. Berkata demikian sambil memanfaatkan Jamus Kalimasada agar dapat terbang, maka seketika itu juga terbanglah Sang Petruk.

Setelah berada di ketinggian, dilihatnya kearah bawah sambil berkata:, “ Oooo betapa indahnya, gunung dan sungai-sungai, sawah dan ladangnya, tanam-tanaman yang sedap dipandang mata, alangkah bahagianya kaum tani, betapa makmurnya negeri ini. Wah, diatas itu memang enaaak. Makanya banyak yang lupa daratan, beradu strategi dan taktik, bila perlu adu jotos, berebut kedudukan dan jabatan. Ini lagi jaman edan, kalau nggak edan nggak kebagian, ayo jadi orang edan”.

Tanpa sengaja Petruk mendarat di ibukota kerajaan Sonyawibawa dan bertanya kepada seorang prajurit : “ Mas, ini negeri mana, hadapkanlah aku kepada Sang Raja”.
Diperolehlah jawaban: “Pak Lamdahur (ARTINYA : TINGGI BESAR), ini negeri Sonyawibawa. Kamu tidak boleh menghadap , bila tidak dipanggil”.

Petruk memaksa: “ diijinkan aku masuk, tidak diijinkanpun aku tetep masuk, mengajak berantem tak ladeni, melawan tak selesaikan, mau marah aku juga bisa marah”. “Kalau tidak percaya dengan omonganku, ayo keroyoklah dengan mertuamu sekalian, aku tidak akan mundur”. Perkelahianpun tidak dapat dihindarkan, Petruk dikeroyok prajurit Sonyawibawa. Namun tak ada yang mengalahkan Petruk, karena sedang dilindungi oleh para dewa, bahkan raja dan para hulubalangpun akhirnya menyerah. Tampuk kekuasaan dan singgasanapun akhirnya diserahkan dan Petrukpun diwisuda, bergelar: Prabu Belgeduwel Beh, Narpati Thong Thong Sot dan Adipati Thok Kethithok Jenggleng. Mendengar gelar sang raja yang baru tersebut, sekalian yang hadir tertawa terpingkal-pingkal. Pagi harinya, pada pertemuan akbar yang digelar Sang Prabu bersabda : “Dengarlah Sang Raja Sonyawibawa, para Menteri dan Bupati, sebenarnya aku tidak bermaksud untuk menjajah. Suatu saat, kalau telah selesai aku memberi pengajaran kepada para pemimpinku, kekuasaan akan kembali aku serahkan. Sekarang ayo ikut aku untuk menyerang tanah Jawa.”

Maka berangkatkah seluruh balatentara yang ada. Pertama kali diseranglah negeri Hastina, maka Prabu Suyudhana dan para Korawa menyerah. Para kesatria Pandhawa yang dipimpin oleh Sri Kresna pun mencegat Prabu Belgeduwel Beh, namun juga tidak berhasil. Kemudian Gareng dan Bagong diutus untuk menghadapi yang sedang berjaya di medan laga.

Prabu Belgeduwel Beh pun menantang Gareng dan Bagong.
“Heee, rajanya orang miskin, majulah, itu yang tangannya cacat dan yang matanya lebar.”

Gareng dan Bagongpun menggunakan strategi jitunya, Prabu Belgeduwel Beh dikeroyok dua orang dan dikilik kitik pinggangnya. Tidak tahan dengan senjata andalan yang dipergunakan dua orang musuhnya, akhirnya terbukalah penyamaran Petruk. Jamus Kalimasada dikembalikan kepada Sri Puntadewa, keadaanpun berangsur-angsur aman kembali.

Sumber : Panyebar Semangat No 01 tahun 2002, naskah Ki Nayantaka.