Archive for November, 2011

Kesenjangan

Posted in Al Islam with tags , , , , on November 23, 2011 by Slamet Sutrisno

Hidup sekomplek dengan teman-teman sekantor ada positif dan ada negatifnya. Positifnya karena komunikasi sudah terbangun di kantor, maka di lingkunganpun gampang nyambung. Urusan kemasyarakatan juga jadi lebih gampang diselesaikan.

Namun ada juga beberapa hal yang membuat hati dan kuping jadi panas. Apalagi yang jadi masalah, kalau bukan duit dan fasilitas.

Komunikasi dalam satu komplek perumahan, bukan hanya terjadi dan dimotori oleh para kepala rumah tangga. Namun juga disponsori oleh para ibu rumah tangga, para pembantu, para guru ngaji, para tukang batu, tukang potong rumput, tukang sayur, satpam dan masih banyak lagi.

Waktu jaman masih latihan kepramukaan dulu ada permainan yang namanya Pesan Berantai. Inti permainan ini adalah, bahwa pesan yang disampaikan oleh penutur pertama tidak sama dengan pesan yang diterima oleh pendengar terakhir. Bisa bertambah, bisa berkurang, bisa juga dipelintir, atau bahkan kombinasi dari ketiganya.

Kalau istri sedang ngobrol dengan asisten pribadinya atau dengan bu guru ngaji, dengan sengaja atau tidak saya sering nguping. Atau kadang istri dengan senang hati segera menyampaikan pesan berantai yang barusan diterimanya.

Lengkaplah informasi itu tanpa saya ketahui validitasnya. Atau kalaupun saya mengetahui derajad validitasnya, sangat tidak mungkin untuk saya ketahui level mana yang telah melakukan pemelintiran sedemikian hebatnya.

“Murah kok bu, hanya 30 juta”, kata seorang ibu pada bu guru ngaji ketika yang terakhir ini memuji televisi ramping yang baru dipajang diruang keluarga, tempat bu guru ngaji mengajar.

Lain hari, lain cerita yang datang. “Kemarin bapaknya baru pulang dari luar negeri, kalau gini lumayan, saya dikasih uang sisanya sekian juta”. “ Makanya, waktu si Ujang (sebut saja begitu, karena saya menulis artikel ini di tanah Parahyangan) piknik ke Jogja saya kasih uang saku sejuta, biar bisa senang-senang dengan kawan-kawannya”.

Banyak hal yang saya dengar. Tentang piknik keluarga ke luar negeri. Tentang gede-gedean uang saku anak sekolah. Tentang hotel berbintang tempat menginap ketika sedang berlibur. Tentang barang-barang yang baru diborong dari mall ternama di pusat kota.

Kawan, berhati-hatilah. Harga pesawat telivisimu adalah 80 bulan gaji asisten rumah tanggamu. Uang saku anakmu ke Jogja adalah 100 kali honor kedatangan guru ngaji anak-anakmu. Ah tapi mungkin saya keliru. Perhitunganku hanya mungkin benar, bila yang dikatakan oleh isterimu, asisten rumah tangga ataupun oleh guru ngajimu itu benar.

Bukankah sejak semula saya meragukan validitas informasi ini?

Kawan, kalau semua itu benar.

Apa manfaatnya mereka tahu harga televisimu yang aduhai itu? Untuk apa mereka tahu gajimu yang gueeeede dan ada gaji ke 13, 14, 15, 16 dan seterusnya itu?

Kesenangan berpiknik ke kebun binatang saja belum tentu pernah mereka nikmati. Buat apa kau ceritakan kemewahan hotel-hotel berbintang itu kepada mereka?

Bu, apa keuntunganmu menggelembungkan 300% gaji suami dihadapan para asistenmu, sementara kekikiranmu tetap konsisten terhadap mereka?

Dengan adanya mereka yang kurang mampu, telah menjadikanmu orang kaya. Dengan adanya mereka yang tidak tamat SD, telah menjadikanmu kaum intelektual. Dengan adanya mereka, hidupmu menjadi lebih mudah.

Tidak perlu perbedaan itu engkau perjelas.

700 Ribu Rupiah

Posted in Al Islam with tags , , , , on November 23, 2011 by Slamet Sutrisno

Karena sesuatu dan lain hal, uang perjalanan dinas selama dua hari belum juga cair. Perjalanan dinas itu sendiri sudah saya jalani dua minggu yang lalu. Sekedar untuk memperoleh kepastian, saya telpon bagian yang biasa mengurusi perjalanan dinas. Singkatnya, masih harus konfrmasi ini dan itu, mohon bersabar.

Tiba-tiba teman sekantor yang duduk disebelah nyeletuk “duit tujuh ratus ribu saja kok diurus”.

Sejenak hati saya berdesir. Begitu rendahkah martabat saya, karena menanyakan uang tujuh ratus ribu rupiah?? Ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba menyelinap. Teman saya juga terdiam, mungkin menyesali ucapannya.

Tepat jam 17:00 saya mengklik presensi on-line. Saya bergegas keluar ruangan dan segera pulang ke rumah. Seperti biasa, setelah maghrib saya melayani anak-anak. Mulai dari si kecil yang minta dibacakan buku cerita, sampai yang sudah kuliah dan ingin didengar ceriteranya tentang kehebohan-kehebohan dikampusnya.

Tapi tidak terhapus juga kata-kata sang teman tadi siang.

Jam 23:00.

Si kecil sudah masuk kamar dengan ibunya. Yang lulus SMU sudah naik ke kamar atas. Telinganya masih disumpal dengan head-set. Ditirukannya apa yang didengarnya di head-set, meski dengan nada yang tidak karuan. Kakaknya masih asyik melayani teman-temannya dengan face-booknya.

Ting ting ting ting, terdengar suara tukang bakso keliling yang kadang datang kadang tidak. Wah, jam segini masih keliling, mau jam berapa pulangnya, pikir saya. Perlahan-lahan saya keluar dari pintu dapur. “Mau beli bakso Pak?’ Tanya anak saya. “Kamu mau?” saya ganti nanya. “Nggak doyan” jawabnya singkat, tapi sengit. Saya juga tahu, bahwa bakso keliling yang suka masuk ke komplek kami memang tidak enak. Senjata utamanya hanya vetsin. Dan celakanya, kalau ngasih vetsin nggak tanggung-tanggung. Satu sendok teh penuh, untuk semangkok bakso.

“Mang, semangkok tanpa vetsin” pesan saya.

Tidak enak? Sudah jelas. Seperti air kencing kuda, batinku. Meskipun, sumpah mati, saya belum pernah minum yang satu ini.

‘Mang, jualan bakso kaya gini untungnya berapa Mang” pancing saya. “Kalau habis semua, ya antara 40 sampai 50 ribu” jawabnya. “Tapi jarang habis Pak” lanjutnya. “Kalau habis itu berapa mangkok Mang”, tanya saya lagi. “Lima puluhan mangkok Pak”.

“Semangkok untungnya seribu” pikir saya.

“Berapa Mang?”, tanya saya. “Enam ribu”, jawabnya.

Saya angsurkan uang sepuluh ribuan. Ketika dia sedang lengah karena mencarikan uang kembalian, dengan cepat kubuang bakso yang masih tersisa tiga perempat itu kearah rimbunnya dedaunan tanaman pagar.

“Baksonya bikin sendiri Mang?” tanya saya lagi. “Nggak Pak, beli di pasar Ujung Berung, sekalian beli sayurnya”.

Prasangka buruk saya langsung bekerja. Saya bayangkan pasar tradisional yang banyak lalat, becek, bau, komplit. Tiba-tiba saya ingat berita tentang bakso tikus yang belakangan marak.

Saya masuk lagi kedalam rumah. Jam dinding sudah menunjukkan hampir tengah malam.

Sambil minum air putih, saya membuat perhitungan-perhitungan sederhana. Kalau saja Mang tukang bakso langsung pulang kerumah saat itu juga, tidak akan kurang dari jam 01:00 atau bahkan jam 02:00 dini hari baru akan sampai di rumahnya. Alangkah lelahn ya.

Kembali ingat uang perjalanan dinas yang belum terbayar, 700 ribu perak. Seandaiya saat ini saya harus berjualan bakso keliling, untuk memperolehnya saya harus menjual 700 mangkok bakso. Kalau sehari laku 50 mangkok, berarti saya harus menjualnya selama 14 hari, tanpa libur Sabtu dan Minggu. Harus memikul seperangkat peralatan dan berkeliling dari kampung ke kampung dari komplek perumahan yang satu ke komplek perumahan yang lain. Saya akan kehilangan banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Saya akan kehilangan kesempatan untuk menulis dengan computer seperti saat ini. Bahkan mungkin saya akan kehilangan kesempatan untuk sekedar membaringkan tubuh ini jika telah kelelahan seharian bekerja. Juga kehilangan kesempatan untuk mendengarkan wejangan para kyai kondang yang sering mengisi ceramah di masjid kantor perusahaan tempatku bekerja saat ini.

Saya masuk kamar dengan perlahan. Si kecil sudah tidur pulas dengan botol susu masih dalam pelukannya, sementara ibunya tertidur dengan buku resep kue yang masih terbuka disampingnya.

Ya Allah, Engkau telah beri kemudahan. Engkau telah beri aku kemuliaan. Engkau telah berikan apa yang tak dimiliki oleh orang lain. Engkau telah berikan hidup yang berharga ini.

Seharusnya aku maklum, kalau suatu saat do’aku tidak Engkau penuhi.

Musim Hujan Telah Tiba

Posted in Pertanian with tags , , , , , on November 23, 2011 by Slamet Sutrisno

Musim hujan telah tiba. Tanah yang tadinya seolah mati dan tanpa harapan, kini telah menggeliat dan hidup kembali.

Sadar atas kesempatan yang diberikan Allah, saya mulai mencoba mencangkul sepetak tanah yang dipercayakan Allah pada keluarga kami. Meski sehari hanya bisa tercangkul dua atau tiga meter, saya mencoba untuk langsung menanaminya dengan tanaman yang kami inginkan. Untuk musim penghujan saat ini, saya mencoba menanam berbagai macam sayuran yang biasa dimasak istri di dapur, seperti kacang panjang, buncis, lobak, terong ungu, kangkung, pepaya, dsb.

Bibit yang saya peroleh dari teman, toko pertanian, maupun persediaan dapur istri menjadi bahan percobaan yang menarik.. Tentu saja bibit yang berasal dari dapur memiliki tingkat keberhasilan yang paling rendah.

Inilah beberapa gambar pada minggu pertama setelah tanam. Saya akan meng up-date nya sesuai perkembangan di kebun.

Perpisahan dengan sahabat karib

Posted in Otomotif with tags , , , on November 19, 2011 by Slamet Sutrisno

VW saya yang satu ini penampilannya kalem. Warnanya steven beige. Ada sebutan lainnya yaitu ligh ivory. Padahl kalau ngeliat contoh warna cat, antara steven beige dan light ivory terlihat adanya perbedaan. Putih kecoklatan, begitulah. Yang satu ini dibilang
kerasan tinggal dengan saya. Tercatat sejak tahun 1995, ketika saya masih berdinas di kota Medan, Sumatra Utara.
Ketika pindah ke Bandung tahun 1996, saya membawanya dengan melalui perjalanan darat, selama dua hari tiga malan, tentunya
termasuk menyeberang dengan ferry dari Bakauheni ke Merak. Mesin standardnya yang hanya 1300 CC termasuk
tangguh, sekalipundi BPKB maupun STNK tertulis 1500. Mungkin salah identifikasi dari sononya. Padahal nomor
mesinnya masih original. Saya restorasi untuk yang pertama tahun 1999 dan yang kedua kalinya tahun 2007/2008. Teman seperjalanannya dari Medan, vw safari hitam 1976 kini tinggal kenangan, karena sudah dilego.

BPKB nya dikeluarkan oleh Kepolisian Tanah Karo Sumatra Utara atas nama Gereja Batak Karo-Zuster Elsberg Zoller-Brastagi. Sedangkan saya adalah pemilik ketiga. Saya balik nama tahun 1996 ketika saya masih tinggal di Medan, Tahun 1996 saya pindah ke Bandung, tahun1998 saya mutasikan ke Kodya Bandung. Tahun 1999 saya mutasikan ke Kabupaten Bandung mengikuti saya pindah rumah. Tahun itu juga berganti warnalah sang kodok dari kombinasi silver-merah mirabella ke ligh ivory. Ini juga karena perpindahan gaya hidup dari hura-hura menjadi lebih santun. Hheee…heee…

Meski kurang bertenaga, tapi mesin 1300 memang sangat irit. Kalau saya bawa dari Bandung ke Semarang, tercatat
antara 13 sampai dengan 14 km/liter. Meski akselerasinya kurang, namun top speednya masih terbilang lumayan, masih bisa keluar 120 km/jam. Takut bablas tidak bisa berhenti?? Jangan khawatir, karena sudah dilengkapi dengan rem cakram depan dan booster untuk vw.

Ketika saya beli si kodok pakai velg racing jepang. Karena ukuran PCD antara velg Jepang dengan tromol Eropa berbeda, maka dipasanglah spicer. Pengerjaan lubang spicer yang tidak presisi ini banyakmenimbulkan masalah. Kalau diajak jalan pelan di aspal yang halus dan rata, mobil malah terasa seperti diayun-ayun bak naik kapal Tampomas. Kalau dipakai ngebut mobil terasa bergetar. Ball joint dan shock absorber sangat boros, harus sering ganti karena jebol. Maka saya penuhi anjuran mekanik saya untuk kembali ke velg dan ban standard, barulah permasalahan teratasi. Masalah lain timbul. Saya tidak menyukai penampilan velg dan ban standard, terlalu culun. Perburuan velg racing untuk vwpun di mulai.

Akhirnya kutemukan juga velg yang sesuai. Dipadu dengan ban continental gres, sangat serasi.
Setelah selesai restorasi, si kodok hanya dipakai sekali seminggu. Hingga suatu saat seorang teman menanyakan, apakah mau dijual. Dia bilang bahwa temennya yang di Surabaya sedang cari vw kodok. Saya bilang, mau dijual asal harga sesuai. Ternyata hanya dengan mengirim gambar via e-mail kesepakatanpun terjadi.

Selamat jalan sahabat. Kamu telah menemaniku selama 13 atau 14 tahun lamanya. Hanya karena keterlepasan omongan, kini kita harus berpisah. Kupajang foto cantikmu di web ini, sebagi kenangan yang abadi.