Archive for January, 2011

BUSI KUALITAS RENDAH?

Posted in Otomotif with tags , , , on January 7, 2011 by Slamet Sutrisno

 Siapa yang tidak ingin performansi motor tunggangannya meningkat. Berbagai upaya dilakukan, salah satunya adalah dengan mengganti businya dengan yang berperforma tinggi. Demikian juga dengan saya, begitu ditawari busi berlabel ”racing” langsung tergelitik niatan untuk mencobanya. ”Apa salahnya mencoba”, begitu kata hati saya. Toh harganya masih terjangkau. Tapi inilah ternyata awal kesalahan yang saya lakukan. Busi berlabel racing merk Fukuyama-IR-B7EM pun saya pasang di Suzuki TS-125 lansiran tahun 2003. Apakah ada perubahan yang signifikan pada performa kendaraan? Karena pengujian hanya menggunakan perasaan, ya tidak bisa mengambil kesimpulan. Singkat kata, ya biasa-biasa saja, begitulah. Sejak penggantian busi, motor tidak pernah saya pergunakan di medan ekstrem, melainkan hanya saya pakai di jalan raya berjarak 10 km dari rumah ke kantor satu atau dua kali seminggu. Tanggal 5 Januari 2011 seperti biasa motor saya pakai berangkat ke kantor. Sepanjang perjalanan saya merasa ada yang kurang dengan tenaga motor saya. Ketika istirahat siang saya coba untuk periksa di bengkel motor trail dibilangan Jl. Suci Bandung sekaligus mengganti seal magnet yang bocor. Ketika busi di lepas dan diperiksa, terlihat pembakaran normal, ketika dites percikan apinyapun bagus, sehigga busi dipasang kembali. Ketika dikencangkan busi itu patah seperti terlihat di gambar. Padahal saya perhatikan tidak ada pemaksaan, baik ketika membuka maupun memasang kembali busi tersebut. Mekanik saya komentar, bahwa seumur umur baru kali ini ada busi patah. Yang menjadi pertanyaan saya, palsu atau memang berkualitas rendah? Karena patah maka busi tidak bisa dilepas. Terpaksa silinder cop dibuka. Patahan busi dilas dengan baud, sehingga bisa dibuka dengan kunci pas. Wah…. cari kerjaan.

Advertisements

MENANAM CABE DALAM POT

Posted in Pertanian with tags , on January 6, 2011 by Slamet Sutrisno

 Suatu keasyikan tersendiri menanam cabe dalam pot. Selain dari sisi estetika tanaman cabe cukup menarik, hasilnya juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan dapur.

Terlebih akhir-akhir ini harga cabai di pasaran mengalami kenaikan yang luar biasa. Cabai rawit saja bisa mencapai angka Rp.70.000,00.

Namun demikian para praktisi yang melakukan penanaman cabe dalam pot sering dibuat frustasi, karena tiba-tiba tanaman cabenya layu, bunga, buah dan daunnya rontok. Diluar gangguan penyakit, ada dua hal yang dapat menyebabkan kejadian diatas. Yang pertama adalah kekeringan. Tanaman cabe dalam pot sangat sensitif terhadap kekurangan air. Bila hal ini terjadi, maka dalam hitungan jam saja, tanaman cabe seperti komputer yang terkena serangan virus rontokbro. Yang kedua adalah karena kesalahan yang kita lakukan. Kalau media tanam terlihat padat, biasanya kita akan mencongkel media tanam untuk menggemburkannya. Hal ini akan menyebabkan akar tanaman cabe yang cenderung untuk tumbuh dipermukaan ini banyak yang putus, sehingga menyebabkan tanaman pingsan.

Dua hal tersebut diatas dapat diatasi sebagai berikut:

1. Mengatasi bahaya kekeringan:

  • Penyiraman secukupnya saja tapi dilakukan secara rutin
  • Pot diletakkan di tatakan yang bisa diisi air. Untukhal ini air  jangan terlalu banyak
  • Cara yang sering digunakan para praktisi adalah dengan penyiraman sistim tetes. Yaitu air dimasukkan kedalam botol bekas air mineral dan dialirkan melalui selang kecil yang disumbat dengan kapas, sehingga airnya hanya menetes saja. Berapa sering tetesan air agar disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Hal ini juga dipengaruhi oleh besar kecilnya pot yang dipakai.

2. Mengatasi masalah putus akar:

  • Tanamlah cabe pada pot yang pengisian medianya hanya sampai setengah atau tiga perempatnya.
  • Apabila media terlihat padat, jangan dicongkel. Tambahkanlah media tanam ke dalam pot hingga akar-akar halus yang terlihat tertutup media.
  • Jangan menambah media terlalu tinggi hingga batang cabe terlalu tenggelam.

Selamat berkebun.

NASI JAGUNG

Posted in Kuliner with tags , on January 6, 2011 by Slamet Sutrisno

 Bagi yang berumur lebih dari 40 tahun, mungkin masih ingat yang namanya “sego jagung”, yaitu pengganti nasi yang terbuat dari jagung. Proses pembuatannya cukup menghabiskan energi. Jagung tua yang sudah kering harus ditumbuk hingga menjadi tepung. Tepung yang dihasilkan kemudian diayak dengan ayakan manual. Wah kok nggak ingat proses masaknya, gimana ya???

Waktu liburan akhir tahun, kami sempat ketemu lagi dengan nasi jagung. Ibu-ibu yang jualan keliling kampung menjajakan nasi jagung ini dengan harga yang murah, Rp1000,00 sebungkus. Perut saya yang sudah melar ini, mungkin baru terasa kenyang kalau diisi 5 bungkus.

Memang perbungkusnya bisa dibilang paket super hemat, terdiri dari kurang lebih 10 sendok penuh nasi jagung, dilengkapi dengan urap daun pepaya dan ikan asin goreng yang kecil dan tipis. Benar-benar menu yang sangat cocok bagi mereka yang sedang menjalankan program pelangsingan tubuh. Dasar perut sudah terbiasa makan kenyang, jam 07.00 sarapan nasi jagung 2 bungkus, jam 10.00 sudah nagih lagi……, …..yaaaa sarapan lagi.

LIBURAN

Posted in Keluarga with tags , , , , on January 6, 2011 by Slamet Sutrisno

Liburan, adalah hal yang paling ditunggu oleh kelas pekerja seperti saya. Saat itulah segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan bisa sejenak dilupakan. Juga merupakan kesempatan yang baik untuk lebih dekat dengan keluarga, istri dan anak-anak. Memang tidak selalu bisa lebih dekat dengan anak-anak dimasa liburan. Terutama dengan anak-anak yang sudah gede, umumnya mereka punya acara sendiri dengan kawan-kawan dekatnya.

Kalaupun bisa liburan bersama dengan anak-anak yang sudah beranjak gede, toh biasanya mereka lebih sibuk berhubungan dengan teman-temannya melalui peralatan telekomunikasi masa kini.

Memiliki seorang anak yang masih balita, dimana umur kita sudah beranjak senja memang lain. Mereka adalah teman bermain yang menyenangkan, meskipun kadang kita kewalahan melayani tingkah polahnya. Kalau bertemu dengan saudara atau teman-teman baru yang seumur, mereka akan lebih cepat akrab. Keakraban ini yang kadang membuat mereka sulit untuk berpisah ketika masa liburan sudah habis.

Ini adalah sebagian dari tingkah anak bungsu kami selama musim liburan akhir tahun 2010 di Ungaran, Semarang, Jawa Tengah.

An-Nissa Rianari Sahara