Archive for September, 2010

Tragedi Anak Panah

Posted in Wayang Trondol with tags , , , , , , on September 30, 2010 by Slamet Sutrisno

Sumantri atau Patih Suwondo itu gugur. Rahwana berhasil membunuhnya, bahkan dengan senjata milik Sumantri sendiri. Tubuh anak muda itu setengah hancur, dicincang anak panah Cakrabaskara.

Ya, Sumantri gugur dengan mengenaskan. Tapi ia segera naik ke surga. Dan di sana, Patih Suwondo itu bertemu dengan Sukrosono, adiknya yang setia. Mereka seperti mengulang kembali masa kanak-kanak yang bahagia, melupakan dendam dan rasa bersalah. Tragedi ”anak panah” di antara keduanya bagai tak pernah terjadi.

Sumantri dan Sukrosono adalah anak Resi Wisanggeni. Sejak kanak-kanak, Sumantri memang telah menyiapkan masa depannya. Ia telah memiliki cita-cita untuk memberikan dharma baktinya sebagai seorang kesatria. Atas petunjuk ayahandanya, Sumantri pergi ke Maespati untuk mengabdi pada Prabu Harjuna Sasrabahu. Segala persiapan yang telah dilakukannya selama ini dirasanya telah cukup. Pada pagi yang belum sempurna, ia melangkah ke utara. Ia tinggalkan Sukrosono, adiknya yang bocah bajang yang buruk rupa, keriting, cebol, dan agak hitam itu. Dengan penampilan fisik semacam itu, mungkin Sumantri merasa adiknya hanya akan menjadi perintang. Meski ia tahu, kesaktian Sukrosono satu tingkat di atasnya. ”Aku sengaja pergi pagi-pagi benar pada saat kau masih lelap. Maafkan aku, adikku,” kata Sumantri pada hari kepergiannya.

Sukrosono yang terbangun pada pagi hari itu terkejut, karena tidak dilihatnya sang kakak. Bahkan semua barang pribadi milik Sumantri juga tidak kelihatan. Maklumlah Sukrosono, bahwa Sumantri yang dicintai lahir batin, telah meninggalkan dirinya. Menangislah Sukrosono: “ Akang Ati… Akang Ati… Aku elu… aku elu … Akang….” Demikian dia berkata dengan terbata-bata dengan bicaranya yang cedal. Sebenarnya dia ingin berkata ” Kakang Sumantri, Kakang Sumantri, aku melu – aku melu Kakang”.(Kakang Sumantri… Kakang Sumantri… Aku ikut… aku ikut …Kakang…) Barangkali Sumantri memang laki-laki pilihan dewa. Tugas pertama yang didapatnya ketika akan mengabdi pada prabu Harjuna Sasrabahu adalah membela negeri Magada, negerinya Dewi Citrawati, yang sedang ditaksir ole Prabu Harjuna Sasrabahu. Dalam suatu pertempuran, ia berhasil membebaskan Negeri Magada dari kepungan pasukan Widarba. Ia menang telak. Pasukannya membawa banyak tawanan dan rampasan; emas-berlian, ternak, dan para putri. Tapi Sumantri tak segera pulang. Di perbatasan, ia justru mengirim surat ke Maespati dan menantang Harjuna Sasrabahu perang tanding.

Ada kesombongan yang tiba-tiba melonjak. Juga ketidakpercayaan akan kekuatan dan kesaktian sang raja. Setidaknya, ada dua tafsir tentang sikap itu. Pertama, Sumantri sekadar ingin lebih meyakinkan diri tentang kepatutan raja yang ia abdi. Kedua, ia tengah mabuk kemenangan. Apa pun alasannya, Sumantri akhirnya kalah melawan prabu Harjuna Sasrabahu , dan ia menerima hukumannya: untuk memindahkan Taman Sriwedari dari khayangan ke istana. Sebuah tugas yang mustahil dan membuat Sumantri hampir putus asa. Namun disaat itu Sukrosono adiknya datang. Dengan kesaktiannya, tugas itu ia selesaikan dengan baik.

Sayang, kehadiran Sukrosono yang buruk rupa membuat kekacauan para penghuni keputren yang sedang menyaksikan keindahan taman Sriwedari. Sumantri malu dan meminta adiknya segera pergi. Tapi Sukrosono menolak. Hingga akhirnya Sumantri membidikkan anak panah ke arahnya. Tanpa diduga anak panah lepas. Sumantri kaget, tapi terlambat. Adiknya tewas terkena panahnya. Manusia macam apakah Sumantri?

Dalam Tripama, sebagai patih Suwondo ia disebutkan memiliki tiga kelebihan; pandai, selalu menyelesaikan pekerjaannya, dan jika perlu mempertaruhkan nyawa. Tapi serat itu juga menyimpan satu pertanyaan penting; apakah Sumantri memiliki hati nurani? Itulah masalahnya. Dan tak hanya dalam jagad pewayangan, di dunia yang real sekarang ini, sosok-sosok Sumantri banyak berkeliaran. Ia mengambil manfaat pada saat membutuhkan, kemudian mencampakkan ketika mulai merasa jijik. Pandangan matanya atas gemerlap duniawi, telah membutakan mata hatinya. ” Akang Ati …Akang Ati aku elu..aku elu Akang ………”

VW Safari 1978

Posted in Otomotif with tags , , on September 30, 2010 by Slamet Sutrisno

Safari Orange 1978Mobil camat, sebutan yang legendaris. Mobil dinas pak Camat era 70-an ini, bagiku sudah bukan barang baru lagi. Yang akan saya ceriterakan ini adalah vw safariku yang ketiga kalinya. Saya kenal vw safari sejak masih berdinas di kota Medan, sekitar tahun 95-an. Bahkan ketika kami sekeluarga harus hijrah ke Bandung tahun 1996 mobil camat ini kubawa serta. Bahkan, konvoi dengan temanku yang asli Medan (Jawa Medan), Mas Imam, kukendarai safari 1976 yang dipersiapkan di bengkel Mas Hardi, Madio Santoso Medan itu seorang diri menuju Bumi Priangan, sementara mas Imam membejek vw kodokku 1972. Ketika mendapat kehormatan dari dinas untuk sekolah di UI Salemba tahun 1997 sampai dengan 1999, dengan berat kulepas safari hitam 1976 itu untuk nomboki biaya rumah tangga.

Lampu rem originalTahun 2002 kuperoleh lagi safari 1976 dari seorang teman di daerah Antapani Bandung. Tapi itupun tidak bertahan lama, karena ada beberapa perniknya yang sangat susah untuk dilengkapi, hingga mengendorkan semangatku untuk membangunnya. Tapi belakangan, ternyata setelah ditangani dengan serius oleh teman sehobby, berhasil juga menyabet gelar juara di beberapa event di Jakarta.

Yang ketiga, inilah yang akan kuceriterakan agak panjang. Berawal dari kerinduan untuk makan angin diatas cabriolet yang harganya terjangkau, terus kutekuni iklan di harian umum kota Bandung yang terkenal, Pikiran Rakyat. Setiap iklan yang muncul langsung diuber. Kekecewaan demi kekecewaan harus ditelan. Baik karena harga yang tak terjangkau, sampai kondisi fisik si safari yang kelewat amburadul.

Lampu depanSuatu saat ada informasi dari Kang Soma, mekanik andalan saya, bahwa ada safari tahun 1978 yang akan dijual. Kondisi terbilang lumayan , katanya. Setelah berjanji dengan si pemilik, kami berdua datang untuk sekedar test drive. Seperti biasa selesai test drive, basa-basi nanya tentang harga. Waktu itu si empunya buka harga 15 jeti. Alamaaak, gimana nih. Sebenarnya hasil test drive cukup mengecewakan. Roda gleyar-gleyor, diinjak rem masih tetep ngeloyor. Pernik-pernik penting banyak yang raib. Kursi untuk driver sudah dinaikkan, hingga postur saya yang hanya 168 cm ini jadi tidak cocok, karena paha mentok dengan lingkar kemudi. Hanya sekedar memenuhi sopan-santun berbisnis, saya mengajukan penawaran 8,5 jeti.

Right handlingSeperti yang anda bayangkan, sang pemilik langsung bermuka asem. Tapi apa boleh buat, temen saya saja hanya berani sampai 6,5 jeti. Akhirnya kami pamit dengan perasaan yang kurang nyaman. Tapi ternyata persoalan tidak berhenti. Kerinduan saya pada mobil camat tidak segera padam. Antara keinginan untuk segera membawa pulang dan logika atas perhitungan biaya yang mesti dikeluarkan terus berselisih. Dua minggu saya menahan diri, sambil terus mencari informasi tambahan.

Akhirnya, ponsel bututku berdering … Ternyata dari Kang Soma. Bos…., begitu dia biasa memanggil saya. Mobilnya dikasih, terus gimana??? tanyanya. Ya tolong diambil, jawab saya. Nanti duitnya tak transfer ke Akang. Siiip, jawabnya. Kang, mobil langsung diservis, biar enakan dipakai, kata saya. Siap, jawabnya. Sejak saat itu, saya sering keliling komplek dengan kap terbuka dengan anak saya yang baru berumur kurang dari setahun, dengan alasan momong.

Tiba suatu waktu, keinginan untuk merestorasi mobil camat itu muncul. Berdasarkan pengalaman membangun mobil di bengkel yang kurang memuaskan, maka kuputuskan untuk merestorasi di rumah. Tawar menawar dengan tukang las yang biasa ngerjakan mobil vw, disepakati harga jasa las sebesar 3,5 juta perak, bahan ditanggung pemilik mobil. Pembayaran jasa disepakati berdasarkan kemajuan proyek. Tapi kenyataan saat pelaksanaan tidak seperti kesepakatan semula. Ketika proyek belum nyampai 50%, jasa yang di kasbonkan sudah mencapai 2 juta. Kemudian, wan prestasipun terjadi. Dengan alasan sakit dan sebagainya pelaksana pekerjaan mengundurkan diri, dan seperti biasa duit yang sudah keluar susah ditarik. Akhirnya proyek mangkrak selama 6 bulan. Nunggu antrean agar bisa menggandeng tukang las yang qualified memang menjemukan. Salah seorang jago las dikalangan vw mania kota Bandung adalah Kang Fajar. Tapi yang satu ini nggak pernah nganggur. Yang ngantri untuk memanfaatkan ketrampilannya harus booking terlebih dahulu. Akhirnya Maret 2008 proyek berlanjut. Harga kontrak jasa pekerjaan las tahap kedua ini sama dengan yang pertama, yaitu 3,5 juta. Lho kok bisa. Menurut Kang Fajar, hasil pengelasan tahap pertama banyak yang keluar dari pakem, sehingga harus dibongkar ulang. Wah, saya nyerah. Pekerjaan las tahap kedua ini selesai dalam 5 bulan. Lama? Saya sebagai pemilik proyek menganggap waktu segitu cukup singkat. Karena pekerjaan ini dilakukan dengan sistem angkat body. Seluruh body diurai habis dan diperiksa senti demi senti, sampai tidak ada yang terlewat. Baut-baut diganti baru, sayang tidak dapat diperoleh baut body ori. Proses pengecatan sudah dimulai sebelum pekerjaan las selesai 100%, karena kenyataannya tukang las dan tukang cat harus berkolaborasi. Kontrak jasa pengecatan senilai 4 juta, bahan ditanggung pemilik proyek. Bahan bahan pekerjaan las dan pekerjaan pengecatan, menurut catatan terakhir senilai kurang lebih 8 juta perak. Mau tahu bahan las itu apa saja?? Diantaranya adalah plat besi 1,2 milli, kawat las biasa, kawat las tembaga, gas acitellyn(bener nggak ini nulisnya), besi siku untuk menahan body ketika dilas agar tidak berubah bentuk.

Sedangkan bahan pekerjaan pengecatan adalah amplas berbagai nomor, dempul, plamuur, epoxy, cairan pengupas cat, cat dasar, thinner, cat, hardener, coating, semacam kain flannel, berbagai macam kit mulai dari hard kit sampai soft kit, dan wak serta sewa kompressor. Untuk cat saya tidak memilih yang mahal, tapi cukup yang menengah merk dana gloss, dengan pilihan warna sosro orange, mendekati warna asli safari pemilu tahun 1977. Komposisi bahan-bahan cat selanjutnya menjadi urusan Kang Asep yang asli Garut itu. Orang yang kalem dan sering dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang baru mengenalnya itu punya kesabaran yang luar biasa dalam mengikuti pakem bentuk asli safari garapannya. Pekerjaan pengecatan selesai enam bulan kemudian. Warna sosro orange yang diguyurkan keseluruh body hasilnya cukup memuaskan.

Kemudian pekerjaan berikutnya sudah menunggu. Pembenahan perkabelan, kaki-kaki, rem dan fit-up mesin menjadi urusan Kang Soma. Demikian pula urusan melengkapi pernik-pernik yang kurang, seperti sepasang sun visor, saringan udara ori dan masih banyak lagi. Urusan yang ditangani Kang Soma ini menelan dana tidak kurang dari 10 juta rupiah. Mobil yang sudah cakep, rasanya kurang pas kalau joknya butut. Jokpun akhirnya digarag oleh Mas Atok dengan biaya 1,5 juta.

Terakhir, si orange digelandang ke Yaya Canvas di bilangan Buah Batu untuk mengganti canvasnya yang sudah butut. Canvas warna cream sangat serasi dengan warna body yang orange cerah. Canvas yang saya pilih rupanya dari bahan yang agak mahal, sehingga harus merogoh kocek sebanyak 4,5 juta. Terakhir keempat rodanyapun diganti baru dengan dana 3 juta. Sehingga proyek yang berjalan hampir dua tahun ini total menghabiskan dana sekitar 35 juta repis.

Proyek dinyatakan selesai bulan Februari 2009. Tapi apa yang terjadi sekarang?? Mobil camat itu lebih banyak berselimut car cover bikinan Yaya Canvas seharga 500 ribu, dibanding dengan jalan-jalan. Terhitung baru dua kali jalan-jalan. Sekali kumpul bareng dengan Pecinta Mobil Eropa di Kota Baru Parahiyangan dan hajatan rekan-rekan VCB di Sabuga.

Banyak ajakan dari teman-teman sesama penggemar safari yang dengan terpaksa tidak bisa saya penuhi, karena kesibukan tugas luar kota yang harus saya jalankan.

Tongseng Kambing

Posted in Kuliner with tags , , on September 29, 2010 by Slamet Sutrisno

Iris :

  • 8 siung besar  bawang merah
  • 4 siung besar bawang putih
  • 6 batang cabe rawit merah/ cabe keriting
  • 2 buah tomat merah

Iris kasar :

  • 1 kepala kol/kubis

Potong dadu :

  • 1 kg daging kambing muda

Bumbu tambahan :

  • 1 sendok teh merica
  • Garam
  • kecap
  • perasan air dari 3 jeruk limau besar
  • 1 sdt kunyit bubuk (optional)

CARA MEMBUAT :

Langkah 1 :

Bumbu yang diiris (tidak termasuk tomat) ditumis sampe wangi lalu masukkan daging kambing yg dipotong dadu, tumis daging sampe berubah warna menjadi keemasan, lalu masukkan kecap, merica, dan kunyit bubuk.
Lalu masukkan 500cc air setelah kecap, merica dan kunyit bubuk teraduk sempurna.

Langkah 2 :

Setelah daging empuk, masukkan tomat irisan dan kol yang sudah diiris kasar.
Aduk rata.

Langkah 3 :

Masukkan air perasan jeruk limau dan garam.
Tunggu sampai mendidih.

Siap dihidangkan.

Ujian untuk Begawan Wisrawa

Posted in Wayang Trondol with tags , , , , , , , on September 28, 2010 by Slamet Sutrisno

Dalam sejarah manusia, yang namanya harta, tahta dan wanita adalah batu ujian bagi makhluk yang namanya laki-laki. Batu ujian ini tingkat daya ujinya bergradasi sesuai dengan sasaran atau subyek ujinya. Mudahnya kata, semakin tinggi tingkatan seseorang akan diuji oleh sesuatu yang daya godanya akan semakin tinggi pula.

Alkisah, di kerajaan Lokapala yang sedang berkuasa adalah Prabu Danaraja, putra dari Resi Wisrawa dengan Dewi Lokawati. Kabar-kabar angin yang sampai ditelinganya membawa berita yang sangat menggetarkan jiwa mudanya. Harta dan tahta sudah berada dalam genggaman, tidak lain karena posisinya sebagai seorang raja tentunya. Yang masih kurang dalam hidupnya, karena belum hadirnya seorang wanita sebagai pendampingnya yang sekaligus akan berperan sebagai Ibu Negara.

Maka ketika kabar kecantikan Dewi Sukesi sampai di telinganya, segeralah sang raja mengirim utusan untuk segera melamar sang Dewi. Adapun yang diutus adalah Resi Wisrawa, ayah sang raja.

Di jagat pewayangan tersebutlah ada satu ilmu nggegirisi yang bernama Ilmu Sastrajendra Hayuningrat. Sebagai seorang Resi yang telah malang melintang disegenap ilmu guna kasantikan, maka Resi Wisrawapun menguasai ilmu ini, bahkan dalam tataran tertinggi.

Dewi Sukesi, yang gadis remaja dan konon kecantikannya mampu menggoncangkan Kahyangan, mendengar pula bahwa dimuka bumi ini ada ilmu yang unik ini. Maka betapa inginnya gadis itu menguasainya. Konon untuk menyaring para pelamarnya yang ribuan jumlahnya, yang terdiri dari para kesatria, raja dan bahkan para resi, Dewi Sukesi punya permintaan. Barang siapa yang mampu mengajarkan Ilmu Sastrajendra Hayuningrat pada dirinya, itulah yang lamarannya bakal diterima.

Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu hanya sebagai kunci untuk dapat memahami isi Rasa Jati, dimana untuk mencapai sesuatu yang luhur diperlukan mutlak perbuatan yang sesuai. Rasajati memperlambangkan jiwa atau badan halus ataupun nafsu sifat tiap manusia, yaitu keinginan, kecenderungan, dorongan hati yang kuat, kearah yang baik maupun yang buruk atau jahat. Nafsu sifat itu ialah; Lumamah (angkara murka), Amarah, Supiyah (nafsu birahi). Ketiga sifat tersebut melambangkan hal-hal yang menyebabkan tidak teraturnya atau kacau balaunya sesuatu masyarakat dalam berbagai bidang, antara lain: kesengsaraan, malapetaka, kemiskinan dan lain sebagainya. Sedangkan sifat terakhir yaitu Mutmainah (nafsu yang baik, dalam arti kata berbaik hati, berbaik bahasa, jujur dan lain sebagainya) yang selalu menghalang-halangi tindakan yang tidak senonoh.

Saat wejangan tersebut dimulai, para dewata di kahyangan marah terhadap Resi Wisrawa yang berani mengungkapkan ilmu rahasia alam semesta yang merupakan ilmu monopoli para dewa. Para Dewa sangat berkepentingan untuk tidak membeberkan ilmu itu ke manusia. Karena apabila hal itu terjadi, apalagi jika pada akhirnya manusia melaksanakannya, maka sempurnalah kehidupan manusia. Semua umat di dunia akan menjadi makhluk sempurna di mata Penciptanya.Dewata tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Maka digoncangkan seluruh penjuru bumi. Bumi terasa mendidih. Alam terguncang-guncang. Prahara besar melanda seisi alam. Apapun mereka lakukan agar ilmu kesempurnaan itu tidak dapat di jalankan.

Semakin lama ajaran itu semakin meresap di tubuh Sukesi. Untuk tidak terungkap di alam manusia, maka Bhatara Guru langsung turun tangan dan berusaha agar hasil dari ilmu tersebut tetap menjadi rahasia para dewa. Karenanya ilmu tersebut harus  tetap utuh berada dalam rahasia dewa. Oleh niat tersebut maka Bhatara Guru turun ke bumi masuk ke dalam badan Dewi Sukesi. Dibuatnya Dewi Sukesi tergoda dengan Resi Wisrawa. Dalam waktu cepat Dewi Sukesi mulai tergoda untuk mendekati Wisrawa. Namun Wisrawa yang terus menguraiakn ilmu itu tetap tidak berhenti. Bahkan kekuatan dari uraian itu menyebabkan Sang Bathara Guru terpental keluar dari raga Dewi Sukesi. Tetapi Bathara Guru tidak menyerah begitu saja. Dipanggilnya permaisurinya yaitu Dewi Uma turun ke dunia. Bhatara Guru masuk menyatu raga dalam tubuh Resi Wisrawa sedang Dewi Uma masuk ke dalam tubuh Dewi Sukesi.

Tepat pada waktu ilmu itu hendak selesai diwejangkan oleh Resi Wisrawa kepada Dewi Sukesi, datanglah suatu percobaan atau ujian hidup. Sang Bhatara Guru yang menyelundup ke dalam tubuh Bagawan Wisrawa dan Bhatari Uma yang ada di dalam tubuh Dewi Sukesi memulai gangguannya terhadap keduanya. Godaan yang demikian dahsyat datang menghampiri kedua insan itu. Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi yang menerima pengejawantahan Bhatara Guru dan Dewi Uma secara berturut-turut terserang api asmara dan keduanya dirangsang oleh nafsu birahi. Dan rangsangan itu semakin lama semakin tinggi. Tembuslah tembok pertahanan Wisrawa dan Sukesi. Dan terjadilah hubungan yang nantinya akan membuahkan kandungan.

Begawan Wisrawa lupa, bahwa ia pada hakekatnya hanya berfungsi sebagai wakil anaknya belaka. Dan akibat dari godaan tersebut, sebelum wejangan Sastra Jendra selesai, keburu hubungan antara Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi terjadi, kenyataan mengatakan mereka sudah merupakan suami-istri. Seusai gangguan itu Bathara Guru dan Dewi Uma segera meninggalkan dua manusia yang telah langsung menjadi suami istri.

Sadar akan segala perbuatannya, mereka berdua menangis menyesali yang telah terjadi. Namun segalanya telah terjadi. Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu gagal diselesaikan. Dan hasil dari segala uraian yang gagal diselesaikan itu adalah sebuah noda, aib dan cela yang akan menjadi malapetaka besar dunia dikemudian hari. Tetapi apapun hasilnya harus dilalui. Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi membeberkan semuanya apa adanya kepada sang ayah Prabu Sumali.

Dengan arif Prabu Sumali menerima kenyataan yang sudah terjadi. Dan Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi resmi sebagai suami istri, dan seluruh sayembara ditutup.

Berbulan-bulan di Lokapala, Danaraja menunggu datangnya sang ayah yang diharapkan membawa kabar bahagia. Ia telah mendengar kabar bahwa sayembara Dewi Sukesi telah berhasil dimenangkan oleh Resi Wisrawa. Sampai suatu saat Wisrawa dan Sukesi kembali ke Lokapala. Dengan sukacita Danaraja menyambut keduanya. Namun Wisrawa datang dengan wajah yang kuyu dan kecantikan sang dewi yang diagung-agungkan banyak orang itu tampak pudar. Danaraja, merasa mendapatkan suasana yang tidak nyaman, kemudian bertanya pada ayahnya. Di depan istri dan putranya, Wisrawa menceritakan semua kejadian yang dialaminya dan secara terus terang mengakui segala dosa dan kesalahannya. Namun kesalahan tersebut merupakan kesalahan yang amat teramat fatal dimata Danaraja. Mendengar penuturan ayahnya, Prabu Danaraja menjadi sangat kecewa dan marah besar. Danaraja tidak dapat mempercayai bahwa ayahnya tega mencederai hati putra kandungnya sendiri. Kemarahan itu sudah tak terbendung. Danaraja lalu mengusir  kedua insan yang telah berstatus sebagai suami-istri tersebut keluar dari negara Lokapala. Akhirnya dengan penuh duka, sepasang suami istri itu kembali ke negara Alengka.

Dalam perjalanan kembali menuju Alengka, Dewi Sukesi yang sudah mulai hamil itu tidak dapat berbuat banyak. Tubuhnya yang mulai kehilangan tenaga tampak kuyu dan pucat. Setelah berbulan-bulan perjalanan yang melelahkan, tiba saat melahirkan. Di tengah hutan belantara padat, Dewi Sukesi tak kuasa lagi menahan lahirnya sang bayi. Akhirnya lahirlah jabang bayi itu dalam bentuk gumpalan daging, darah dan kuku. Dewi Sukesi terkejut juga Resi Wisrawa. Gumpalan itu bergerak keluar dari rahim sang ibu menuju kedalam hutan. Kesalahan fatal dari dua orang manusia menyebabkan takdir yang demikian buruk terjadi. Gumpalan darah itu bergerak dan akhirnya menjelma menjadi tiga bayi berwajah raksasa, dua orang bayi laki-laki raksasa sebesar bukit dan satu orang bayi perempuan yang ujud tubuhnya ibarat bidadari, tetapi wajahnya berupa raksasa perempuan.

Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi hanya dapat berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Sang Penguasa Alam. Ketiga bayi itu lahir ditengah hutan diiringi lolongan serigala dan raungan anjing liar. Auman harimau dan kerasnya teriakan burung gagak. Suasana yang demikian mencekam mengiringi kelahiran ketiga bayi yang diberi nama Rahwana, Sarpakenaka dan Kumbakarna. Dengan kepasrahan yang mendalam, Wisrawa dan Sukesi membawa ketiga anak-anaknya ke Alengka.

Tiba di Alengka, Prabu Sumali menyambut mereka dengan duka yang sangat dalam. Kesedihan itu membuat Sang Prabu raksasa yang baik hati ini menerima mereka dengan segala keadaan yang ada. Di Alengka Wisrawa dan Sukesi membesarkan ketiga putra-putri mereka dengan setulus hati. Rahwana dan Sarpakenaka tumbuh menjadi raksasa dan raksesi beringas, penuh nafsu jahat dan angkara. Rahwana tampak semakin perkasa dan menonjol diantara kedua adik-adiknya. Kelakuannya kasar dan biadab. Demikian juga dengan Sarpakenaka yang makin hari semakin menjelma menjadi raksasa wanita yang selalu mengumbar hawa nafsu. Sarpakenaka selalu mencari pria siapa saja dalam bentuk apa saja untuk dijadikan pemuas nafsunya.

Sebaliknya Kumbakarna tumbuh menjadi raksasa yang sangat besar, tiga sampai empat kali lipat dari tubuh raksasa lainnya. Ia juga memiliki sifat dan pribadi yang luhur. Walau berujud raksasa, tak sedikitpun tercermin sifat dan watak raksasa yang serakah, kasar dan suka mengumbar nafsu. Namun perasaan gundah dan sedih menggelayut di relung hati Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Ketiga putranya lahir dalam wujud raksasa dan raksesi. Kini Dewi Sukesi mulai mengandung putranya yang keempat. Akankah putranya ini juga akan lahir dalam wujud rasaksa atau raseksi? Dosa apakah yang telah mereka lakukan? Ataukah akibat dari gejolak nafsu yang tak terkendali sebagai akibat penjabaran Ilmu Sastrajendra Hayuningrat yang telah dilakukan oleh Resi Wisrawa kepada Dewi Sukesi? Sadar akan kesalahannya yang selama ini terkungkung oleh nafsu kepuasan, Resi Wisrawa mengajak Dewi Sukesi, istrinya untuk bersemadi, memohon pengampunan kepada Sang Maha Pencipta, serta memohon agar dianugerahi seorang putra yang tampan, setampan Wisrawana/Danaraja, putra Resi Wisrawa dengan Dewi Lokawati, yang kini menduduki tahta kerajaan Lokapala. Sebagai seorang brahmana yang ilmunya telah mencapai tingkat kesempurnaan, Resi Wisrawa mencoba membimbing Dewi Sukesi untuk melakukan semadi dengan benar agar doa pemujaannya diterima oleh Dewata Agung.

Berkat ketekunan dan kekhusukkannya bersamadi, doa permohonan Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi diterima oleh Dewata Agung. Setelah bermusyawarah dengan para dewa, Bhatara Guru kemudian meminta kesediaan Resi Wisnu Anjali, sahabat karib Bhatara Wisnu, untuk turun ke marcapada menitis pada jabang bayi dalam kandungan Dewi Sukesi. Dengan menitisnya Resi Wisnu Anjali, maka lahirlah dari kandungan Dewi Sukesi seorang bayi lelaki yang berwajah sangat tampan. Dari dahinya memancar cahaya keputihan dan sinar matanya sangat jernih. Sebagai seorang brahmana yang sudah mencapai tatanan kesempurnaan, Resi Wisrawa dapat membaca tanda-tanda tersebut, bahwa putra bungsunya itu kelak akan menjadi seorang satria yang cendekiawan serta berwatak arif bijaksana. la kelak akan menjadi seorang satria yang berwatak brahmana. Karena tanda-tanda tersebut, Resi Wisrawa memberi nama putra bungsunya itu, Gunawan Wibisana. Karena wajahnya yang tampan dan budi pekertinya yang baik, Wibisana menjadi anak kesayangan Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Dengan ketiga saudaranya, hubungan yang sangat dekat hanyalah dengan Kumbakarna. Hal ini karena walaupun berwujud raksasa, Kumbakarna memiliki watak dan budi yang luhur, yang selalu berusaha mencari kesempurnaan hidup.

Nun jauh di negara Lokapala, Prabu Danaraja masih memendam rasa kemarahan dan dendam yang sangat mendalam kepada ayahnya. Hingga detik ini dia masih tidak dapat menerima perlakuan ayahnya yang dianggapnya mengkhianati dharma bhaktinya sebagai anak. Sang Resi Wisrawa sebagai ayah dianggapnya telah menyelewengkan bhakti seorang anak yang telah dengan tulus murni dari dalam bathin yang paling dalam memberikan cinta dan kehormatan pada ayah kandung junjungannya. Rasa ini benar-benar tak dapat ia tahan hingga suatu saat Prabu Danaraja mengambil sikap yang sudah tidak bisa ditawar lagi. Prabu Danaraja lalu mengerahkan seluruh bala tentara Lokapala dan memimpinnya sendiri untuk menyerang Alengka dan membunuh ayahnya sendiri yang sudah tidak memiliki kehormatan lagi dimatanya.

Alengka dan Lokapala bentrok dan terjadi pertumpahan darah. Pertumpahan darah yang ditujukan hanya untuk dendam seorang anak pada ayahnya. Resi Wisrawa tidak dapat diam melihat semua ini. Ribuan nyawa prajurit telah hilang demi seorang Brahmana tua yang telah penuh dengan dosa.

Wisrawa segera turun ke tengah pertempuran dan menghentikan semuanya. Kini ia berhadap-hadapan dengan Danaraja, anaknya sendiri. Dengan mata penuh dendam, Danaraja mengayunkan pedang menebas leher Wisrawa. Darah mengucur deras, Wisrawa roboh di tengah-tengah para prajurit kedua negara. Melihat Resi Wisrawa tewas dalam peperangan melawan Prabu Danaraja, Dewi Sukesi berniat untuk membalas dendam kematian suaminya. Rahwana yang ingin menuntut balas atas kematian ayahnya, dicegah oleh Dewi Sukesi. Kepada keempat putranya diyakinkan, bahwa mereka tidak akan mampu mengalahkan Prabu Danaraja yang memiliki ilmu sakti Rawarontek, yaitu meski tubuh hancur berkeping keping akan tetap dapat bersatu dan hidup lagi asal menyentuh tanah. Untuk dapat mengalahkan dan membunuh Prabu Danaraja. Mereka harus pergi bertapa, mohon anugrah Dewata agar diberi kesaktian yang melebihi Prabu Danaraja, yang sesungguhnya masih saudara satu ayah mereka sendiri, sebagai bekal menuntut balas atas kematian ayah mereka. Berangkatlah mereka melaksanakan perintah ibunya.

Tunggu lanjutannya.

Merebus Telur

Posted in Kuliner with tags , on September 20, 2010 by Slamet Sutrisno

Pekerjaan gampang. Memang bagi yang sudah tahu caranya, merebus telur adalah pekerjaan gampang. Tapi bagi yang belum paham, ini masalah tersendiri.. Para ibu muda, yang selama masa gadisnya jarang, atau bahkan tidak pernah masuk dapur sering dibikin frustasi untuk pekerjaan sepele ini.

Ketika mencoba merebus sebutir telur, begitu telur dimasukkan kedalam air mendidih, beberapa detik kemudian cangkangnya pecah dan isinya berhamburan bercampur dengan air yang mendidih. Atau kalaupun tidak pecah, setelah dingin dan ingin dikupas, cangkangnya sangat lengket dengan bagian putih telurnya, sehingga telur yang dikupas tidak mulus sempurna.

Telur, seperti kita ketahui, didalamnya terdapat rongga udara. Karena ada rongga udara inilah, ketika sebutir telur dipanaskan dengan tiba tiba, udaranya memuai dengan sangat cepat dan tekanannya tidak tertahan oleh cangkang telur, hingga retak atau pecah. Maka untuk menghindarinya, masukkanlah telur kedalam panci yang sudah berisi air dingin dan taruh di atas kompor. Hidupkanlah kompor dengan nyala yang tidak terlalu besar, tapi mampu membuat air mendidih meskipun lambat. Air mendidih selama lima menit sudah akan mematangkan telur tersebut. Matikan kompor. Jangan keluarkan telur dari dalam air. Biarkan airnya perlahan-lahan menjadi dingin. Ketika suhu air berkisar 40º atau 50º C, telur sudah bisa diambil. Dengan cara ini, cangkangnya tidak akan lengket dengan putih telur. Telur akan sangat mudah dikupas, hasilnyapun mulus sempurna.

Urusan merebus dan mengupas ratusan butir telurpun tidak akan jadi masalah.

Membuat Sate Yang Empuk

Posted in Kuliner with tags , on September 8, 2010 by Slamet Sutrisno

Makan sate, bagi sebagian orang adalah sebagai dopping, katanya untuk mendongkrak stamina. Kurang jelas stamina yang bagaimana yang dimaksud. Bahkan ada sebagian yang meyakini, bahwa sate setengah matang lebih afdol dibanding sate yang benar-benar matang. Beruntung kalau kita dapat memperoleh daging kambing muda, sehingga keinginan kita untuk dapat membuat sate kambing yang empuk bisa terlaksana. Tapi daging kambing yang kita peroleh di pasaran tidak selalu muda. Bahkan untuk acara-acara khusus kambing atau domba yang dipotong dipersyaratkan yang berumur lebih dari 1 tahun. Daging kambing atau domba yang sudah cukup umur ini jika disate biasanya agak alot. Beberapa tukang sate sering menyiasatinya dengan cara direbus terlebih dahulu agar lebih empuk. Namun bagi sebagian penggemar sate, daging yang sudah direbus terlebih dahulu sebelum dibakar, citarasanya sudah berubah.

Ada kiat khusus untuk menyiasati agar diperoleh sate yang empuk, tanpa harus merubah citarasa ”kesateannya”:

  1. Potong daging seukuran sebagaimana Anda biasa membuat sate
  2. Pisahkan antara daging murni, daging campur urat, dan jerohan
  3. Beberkan beberapa lembar daun pepaya yang tidak terlalu muda dan juga tidak terlalu tua
  4. Taruhlah daging yang sudah dipotong-potong tersebut diatas daun pepaya dan ratakan. Jangan menumpuk dagingn terlalu tebal. Tutuplah diatas daging tersebut dengan daun pepaya. Tindihlah bagian atasnya dengan benda yang berat agar daun pepaya benar-benar menempel pada daging.
  5. Biarkan daging dalam keadaan seperti itu kurang lebih 15 menit
  6. Tusuk dengan bambu dan siap dibakar

Untuk diperhatikan:

  1. Jerohan memerlukan waktu yang lebih singkat dalam proses ”papainisasi” ini (karena getah yang terkandung dalam daun dan buah pepaya disebut papain), sebaliknya daging bercampur urat akan memerlukan waktu lebih lama
  2. Jangan membiarkan daging yang sudah di papainisasi terlalu lama (tidak segera dibakar)
  3. Pada akhirnya adalah pengalaman Anda pribadi untuk menentukan berapa lama proses papainisasi harus dilakukan. Karena sate yang terlalu empukpun tidak enak juga (seperti bukan sate).

Bagi-bagi kalau sudah praktek.

Kiat menanam Kangkung Darat Yang Renyah

Posted in Pertanian with tags , on September 6, 2010 by Slamet Sutrisno

Siapa yang tidak tahu sedapnya tumis kangkung. Seporsi tumis kangkung di rumah makan terkenal seperti Ayam Taliwang harganya cukup aduhai. Tapi memang bahan baku kangkungnya berkualitas tinggi. Segar, masih muda, berpenampilan menarik, empuk, tidak alot. Kangkung yang dipakai oleh restoran –restoran berkelas biasanya adalah kangkung darat, bukan kangkung yang ditanam disawah atau di comberan. Kangkung darat ini di tanam dari biji kangkung yang dapat dibeli di toko pertanian seperti Tani Sugih di bilangan Jalan Pasteur Bandung. Biji kangkung ini harganya cukup mahal. Untuk saat ini berkisar Rp.75.000,00 sekilo. Bentuknya bulat kehitaman mirip biji kapok randu. Kalau di toko pertanian biasanya sudah dicampur pestisida ringan yang diberi pengenal warna agak orange atau merah jambu. Ditoko tertentu kita dapat membeli eceran per 1 ons yang dibanderol sekitar Rp.10.000,00 Bila anda membeli bibit, perhatikan expired dates-nya. Bila telah mendekati expired dates, biasanya daya tumbuhnya sudah menurun. Jangan membeli bibit yang sudah kadaluarsa. Untuk yang dijual eceran, kita tak dapat melihat expired datesnya. Di dataran tinggi, kangkung tetap dapat tumbuh, tapi tidak sebaik di daerahdataran rendah. Tanah yang cocok untuk tanaman ini adalah yang cukup gembur dan subur. Pertumbuhan akan lebih baik bila tidak di tanam di bawah naungan pepohonan. Bila kurang menerima sinar matahari sepanjang hari, maka kangkung akan tumbuh kurus dan beruas panjang. Tanah yang subur dan berpengairan cukup sangat dibutuhkan tanaman ini. Hal ini mutlak agar tanaman sudah tumbuh optimal ketika usianya berkisar 40 hari. Tanaman kangkung yang sudah berusia lebih dari 40 hari, sudah akan menurun kualitasnya. Meskipun masih bisa dimasak, kangkung yang sudah ”tua” harus dipilih bagian pucuknya saja untuk dimasak. Kesalahan yang biasa dilakukan petani kangkung adalah menanami lahannya yang cukup luas secara bersamaan, kemudian memanen hasilnya secara berangsur-angsur. Dalam hal ini berarti tanaman yang di panen belakangan umurnya sudah terlalu tua, sehingga setelah menjadi hidangan citarasanya tidak seperti yang diinginkan. Lalu bagaimana agar kangkung yang kita panen tidak terlalu tua? Umur kangkung yang berkisar 40 hari tersebut kita jadikan sebagai patokan. Katakan kita punya lahan seluas 400 M2 yang bisa ditanami kangkung. Kalau kita ingin memanen sepuluh kali dengan kelang panen selama 5 hari, maka kita lakukan sebagai berikut:

  1. Lahan dibagi menjadi 10 bedeng @ 40 M2
  2. Bedeng pertama kita olah dan kita tanami
  3. Lima hari kemudian, kita menanam di bedeng kedua, demikian seterusnya sampai bedeng ke sepuluh
  4. Ketika kita menanam bedeng yang ke delapan, berarti tanaman di bedeng pertama sudah berumur 40 hari, berarti siap di panen
  5. Ketika kita menanam di bedeng ke sepuluh, berarti kita juga sudah bisa menanam lagi di bedeng pertama yang sudah selesai di panen dan diolah lagi.

Tentunya akan timbul pertanyaan. Bagaimana jika hasil panen kangkung untuk tiap bedeng yang luasnya 40M2, tidak akan habis kita masak sendiri. Atau bahkan mungkin terlalu banyak untuk pasar di lingkungan kita. Kalau demikian halnya kita dapat membagi lahan tidak hanya menjadi 10 bagian, tapi dapat kita bagi menjadi 20 bagian. Dengan demikian kita dapat melakukan panen dua atau tiga hari sekali. Yang penting sesuaikan dengan kebutuhan kita. Atau kalau untuk dijual, sesuaikan dengan kebutuhan atau daya serap pasar. Yang paling penting adalah menjaga agar kualitas panenan kita tetap berkualitas tinggi, yaitu segar, muda dan berpenampilan menarik. Wah, kayak gadis saja.